JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang massa membanjiri jalan-jalan di Belem, Brasil, pada Sabtu, 15 November 2025. Para demonstran menuntut Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) mengambil langkah lebih berani untuk mempercepat berakhirnya penggunaan bahan bakar fosil serta menghentikan deforestasi secara total. Aksi ini berlangsung bersamaan dengan pembahasan tengah putaran oleh para negosiator di lokasi konferensi.
Menurut laporan Reuters, Menteri Lingkungan Hidup Brasil, Marina Silva, menegaskan bahwa COP30 harus menjadi momentum besar menuju transformasi energi bersih dan penghentian penebangan hutan. Ia menyoroti pentingnya komitmen global untuk tidak memperlakukan hutan dan tanah adat sebagai sekadar aset ekonomi.
“Forum ini harus menjadi ruang untuk menyusun strategi nyata mengenai apa yang harus dicapai: yakni keluar dari praktik deforestasi dan ketergantungan pada bahan bakar fosil,” ujar Marina, Minggu, 16 November 2025.
Aksi protes selama COP30 memang meningkat dalam sepekan terakhir. Ketegangan bahkan sempat memuncak pada Selasa, 10 November 2025, saat kelompok masyarakat adat bentrok dengan aparat keamanan.
Di sisi lain, beberapa negara—termasuk Djibouti, Nigeria, Sudan Selatan, Prancis, Spanyol, Kenya, dan Barbados—mengumumkan rencana menerapkan tarif premium pada penerbangan internasional guna menambah dana bagi program iklim.
Sementara itu, kelompok Utilities for Net Zero Alliance menyatakan telah menaikkan komitmen investasi mereka menjadi hampir 150 miliar dolar AS per tahun.
Dengan dinamika tersebut, Presidensi Brasil di COP30 membuka kemungkinan adanya keputusan politik baru, asalkan ada kesepakatan dari seluruh negara peserta.














