Data terbaru dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan bahwa hingga akhir 2024, luas tutupan es di kawasan Pegunungan Jayawijaya menyusut menjadi sekitar 0,11 hingga 0,16 kilometer persegi, dari sebelumnya sekitar 0,23 kilometer persegi pada 2022.
Fenomena penyusutan ini sejalan dengan tren global. Laporan internasional mencatat bahwa gletser dunia kehilangan massa hingga 408 gigaton sepanjang 2025, menjadikannya salah satu periode pencairan terburuk sejak pencatatan dimulai pada 1975.
Pakar hidrometeorologi UGM, Emilya Nurjani, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama percepatan pencairan adalah penurunan albedo atau kemampuan permukaan bumi memantulkan radiasi matahari.
“Penurunan albedo membuat energi radiasi menumpuk di atmosfer sehingga mempercepat pencairan gletser,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan penggunaan lahan serta peningkatan suhu global menyebabkan lebih banyak panas terserap oleh permukaan bumi, sehingga mempercepat pemanasan dan mencairkan es, termasuk di wilayah tropis.
Fenomena serupa juga terjadi di beberapa wilayah lain di dunia, seperti Gunung Kilimanjaro di Afrika, yang juga mengalami penyusutan gletser secara signifikan.
Kondisi ini menjadi peringatan serius bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada wilayah kutub, tetapi juga mengancam fenomena alam langka di kawasan tropis seperti salju abadi di Puncak Jaya.














