JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah diminta bersiap menghadapi kemungkinan lonjakan harga minyak dan risiko krisis energi menyusul eskalasi konflik akibat serangan Amerika Serikat ke Venezuela. Peringatan tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, yang menilai situasi geopolitik ini dapat berdampak langsung pada pasar energi dunia.
Menurut Eddy, posisi Venezuela sebagai salah satu negara pemasok minyak mentah global membuat konflik tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan pasokan dan permintaan minyak internasional. Kondisi itu dinilai bisa memicu kenaikan harga minyak secara signifikan.
“Langkah mitigasi perlu segera disiapkan, terutama menghadapi potensi naiknya harga minyak dunia akibat tingginya permintaan sementara pasokan global berisiko menurun,” kata Eddy kepada wartawan, Senin (5/1/2025).
Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu menegaskan, kebijakan antisipatif yang tepat sangat penting untuk melindungi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari tekanan akibat fluktuasi harga minyak dunia.
“Sebelum dampak krisis ini meluas, pemerintah masih memiliki ruang untuk melakukan langkah pencegahan. Kebijakan yang tepat akan membantu menjaga stabilitas dan kesehatan APBN,” ujarnya.
Selain itu, Eddy menilai krisis Venezuela seharusnya dijadikan momentum strategis untuk mempercepat penguatan ketahanan energi nasional, khususnya melalui pengembangan energi baru dan terbarukan.
Ia kembali menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi dengan mengoptimalkan potensi sumber daya energi domestik yang berkelanjutan.
“Krisis ini menjadi pengingat bahwa ketahanan energi harus diperkuat. Kita tidak bisa terus bergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan energi nasional,” tutup Eddy.














