JurnalPatroliNews – Jakarta – Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mengirimkan rangkaian bunga anggrek berwarna ungu kepada Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, bertepatan dengan peringatan ulang tahunnya yang ke-79.
Aksi tersebut langsung menarik perhatian publik dan memunculkan beragam penafsiran bernuansa politik.
Di tengah relasi politik yang kerap disebut renggang sejak Pemilu 2024, gestur simbolik tersebut dinilai melampaui sekadar ucapan selamat ulang tahun. Banyak pihak menilai, kiriman bunga itu membawa pesan tersirat terkait dinamika hubungan elite nasional.
Pengamat politik Adi Prayitno menilai, langkah Gibran tidak bisa dilepaskan dari konteks relasi antara Megawati, Gibran, dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Menurutnya, momen ini wajar menjadi sorotan publik karena menyentuh aspek psikologis dan simbolik dalam politik.
“Ini menarik perhatian karena berkaitan langsung dengan hubungan politik Megawati dan Gibran, yang juga merupakan putra Jokowi. Sejak Pemilu 2024, relasi itu memang kerap disebut tidak berjalan harmonis,” ujar Adi melalui kanal YouTube miliknya, Senin, 26 Januari 2026.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia tersebut menilai, pengiriman bunga anggrek ungu dapat dimaknai sebagai bentuk komunikasi politik nonverbal yang sengaja ditampilkan ke ruang publik.
“Banyak yang membaca ini sebagai pesan politik simbolik. Seakan Gibran ingin menunjukkan bahwa sebagai wakil presiden, ia membuka ruang komunikasi dengan semua pihak, termasuk Megawati, meskipun secara politik disebut-sebut sudah tidak lagi memiliki kedekatan,” jelasnya.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari jajaran elite PDI Perjuangan terkait kiriman bunga tersebut. Sikap senyap PDIP justru memperluas ruang spekulasi di tengah masyarakat.
Situasi ini juga tak lepas dari posisi politik Gibran setelah dikeluarkan dari PDIP. Berbagai asumsi pun berkembang mengenai arah langkah politiknya ke depan, apakah akan bergabung dengan partai lain atau memilih tetap berada di luar struktur kepartaian.
Kiriman anggrek ungu itu akhirnya tak hanya dipandang sebagai bentuk penghormatan personal, tetapi juga sinyal politik yang sarat makna di tengah dinamika hubungan elite nasional pasca Pemilu 2024.














