Korea Utara: Korut ‘Ledakkan Kantor Penghubung’ Dekat Perbatasan Korsel

  • Whatsapp
Kim Yo-jong, saudara dari pemimpin Korea Utara mengancam akan segera mengambil tindakan.

JurnalPatroliNews – Korea Utara dilaporkan telah meledakkan kantor penghubung dengan Korea Selatan dekat kota perbatasan Kaesong, sebut sejumlah pejabat Korsel.

Peristiwa ini terjadi beberapa jam setelah tentara Korut menyatakan siap memasuki zona demiliterisasi yang berbatasan dengan Korea Selatan.

Bacaan Lainnya

Kementerian Unifikasi Korsel mengonfirmasi bahwa pada pukul 14.49 waktu setempat telah terjadi ledakan di kantor penghubung.

Kantor itu dibuka pada 2018 untuk membantu komunikasi antara Korsel dan Korut. Sejak Januari lalu, kantor yang berada di wilayah Korut tersebut dalam keadaan kosong lantaran adanya pembatasan pergerakan guna mencegah penyebaran Covid-19.

“Perusakan keji Korea Utara terhadap kantor penghubung di Kaesong adalah pukulan simbolis terhadap rekonsiliasi dan kerja sama antara Korea,” kata Leif-Eric Easley, profesor yang mengajar di Ewha University di Seoul.

“Sulit melihat bagaimana perilaku semacam itu akan membantu rezim Kim [Jong-un] mendapatkan apa yang diinginkan dari dunia, namun jelas foto-fotonya akan digunakan untuk propaganda domestik.”

Beberapa jam sebelumnya, tentara Korea Utara menyatakan siap memasuki zona demiliterisasi yang berbatasan dengan Korea Selatan.

Ancaman itu merupakan respons atas aksi kelompok pembelot Korut yang berlindung di Korsel dan mengirimkan materi-materi propaganda di wilayah perbatasan.

Selama akhir pekan, Kim Yo-jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, mengatakan dirinya telah memerintahkan tentara untuk mempersiapkan diri menduduki zona demilitarisasi.

Militer Korut pun mengatakan siap “untuk mengubah garis depan menjadi benteng dan meningkatkan kewaspadaan militer”.

Zona Demiliterisasi Korea atau (DMZ) adalah wilayah perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan yang memiliki lebar dua kilometer dan panjang 250 kilometer.

Ketegangan antara kedua negara terus meningkat selama beberapa waktu akibat dari selebaran yang melintasi perbatasan, biasanya dikirim melalui balon dari wilayah selatan ke utara.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan, Selasa (16/06), merespons ancaman itu, dan mengatakan tengah bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam memantau secara dekat gerakan militer di Utara.

Apa kata Korea Utara?

Korea Utara dan Korea Selatan dipisahkan oleh zona demiliterisasi (DMZ) – wilayah penyangga di sepanjang perbatasan yang telah memisahkan kedua negara sejak Perang Korea pada 1950-an.

Pada Selasa (16/06), militer Korea Utara mengatakan pihaknya “sedang merencanakan sebuah aksi” bagi tentara untuk pindah “ke zona yang telah mengalami demiliterisasi”.

Staf Umum Militer Korea Utara mengatakan pihaknya dalam status “siaga tinggi” dan siap untuk secara “cepat dan menyeluruh” menerapkan keputusan apa pun yang diambil pemerintah.

Pernyataan itu muncul setelah adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengancam aksi militer terhadap Korea Selatan.

“Saya merasa ini saatnya untuk memutuskan hubungan dengan pemerintah Korea Selatan,” kata Kim Yo-jong, yang memegang peran senior dalam hierarki politik Korea Utara.

Dia berjanji akan mengambil “tindakan” dan mengatakan telah menginstruksikan militer, serta mengakhiri pernyataannya dengan: “Sampah harus dibuang ke tempat sampah.”

Mengapa Korea Utara melakukan ini?

Korea Selatan menanggapi serius ancaman tersebut.

Tim intelijen telah dikerahkan dan ditingkatkan di sepanjang DMZ. Presiden Korea Selatan telah meminta untuk tenang – sekaligus mendesak Pyongyang (ibu kota dan pusat pemerintahaan Korea Utara) menghindari eskalasi ketegangan.

Tapi bagaimana bisa sampai ketegangan memuncak hingga di titik ini, apakah hanya dipicu oleh selebaran?

Pertama, Korea Utara menagih janji tentang propaganda anti-rezim. Korea Selatan sebelumnya berjanji untuk mencegah selebaran diterbangkan melewati perbatasan sebagai bagian dari perjanjian antar-Korea antara Presiden Moon dan Kim Jong Un pada tahun 2018.

Kedua, Pyongyang marah pada Seoul (ibu kota dan pusat pemerintahaan Korea Selatan) karena tidak menantang desakan Amerika Serikat bahwa sanksi tegas harus tetap diberlakukan.

Jadi sepertinya ini tentang sesuatu yang lebih besar. Timing dalam melancarkan ancaman, serta eskalasi yang hati-hati dari memotong komunikasi menjadi ancaman aksi militer, terlihat diatur.

Korea Utara mungkin sedang membangun kondisi krisisi untuk menghukum Korea Selatan dan berpotensi menggunakan ketegangan itu untuk mempengaruhi atau daya tawar dalam pembicaraan di masa depan.

Adapun ancamannya bertujuan untuk kembali pada kondisi sulit yang diatasi Presiden Moon pada 2018 lalu, ketika sebanyak 20 menara penjaga dihancurkan – dengan harapan untuk mengubah wilayah perbatasan dari yang paling dijaga ketat di dunia menjadi zona damai.

Presiden Moon mengatakan dia ingin membangun “perdamaian yang tak dapat diubah” di semenanjung itu.

Namun, Korea Utara bisa membuktikan dia salah.

Selebaran menimbulkan kemarahan?

Pekan lalu, Pyongyang memutus semua komunikasi dengan Selatan, termasuk hotline antara para pemimpin kedua negara.

Pyongyang marah besar terhadap kelompok pembelot Korea Utara yang berbasis di Korea Selatan. Mereka secara rutin mengirim selebaran ke seberang wilayah perbatasan.

Kelompok-kelompok yang dipimpin para pembelot ini sering mengirim balon melewati perbatasan, berisi selebaran dan barang-barang lainnya, termasuk makanan, uang kertas US$1, radio dan stik USB yang berisi drama dan berita Korea Selatan.

Pemerintah Korea Selatan telah berusaha untuk menghentikan aksi kelompok-kelompok itu, dengan alasan dapat membuat warga di dekat perbatasan dalam bahaya.

Presiden Moon Jae-in, Senin (15/06) kemarin, secara langsung mengimbau Korea Utara untuk kembali ke dialog dan tidak meningkatkan situasi lebih lanjut.

Apa yang dimaksud dengan zona demiliterisasi?

Zona demiliterisasi (DMZ) dibentuk setelah Perang Korea pada tahun 1953 untuk menciptakan zona penyangga antara kedua negara.

Selama beberapa dasawarsa, di wilayah itu terjadi beragam persistiwa, mulai dari sesekali terjadi tembak menembak, pelarian tentara Korea Utara ke Korea Selatan, dan beberapa pembicaraan damai guna mengurangi ketegangan.

Bahkan Korea Selatan menjadikan tempat itu sebagai tujuan wisata.

Saat Korut dan AS terlibat dalam pemulihan hubungan, DMZ juga merupakan tempat jabat tangan langsung antara Kim Jong-un, Donald Trump, dan Moon Jae-in.

Selama dua tahun terakhir, pemerintah Korea Selatan telah mencoba mengubah perbatasan yang dijaga ketat menjadi zona damai.

Meredakan ketegangan militer di perbatasan telah disepakati antara para pemimpin kedua negara pada pertemuan puncak di Pyongyang pada September 2018.

Namun sejauh ini, terlepas dari namanya, zona ini tetap menjadi salah satu daerah yang paling sarat dengan persenjataan dan personel militer di dunia. (BBC Indonesia)

Pos terkait