JurnalPatroliNews – WASHINGTON — Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap fasilitas rudal milik Iran di sekitar Selat Hormuz dengan menggunakan bom penghancur bunker berbobot 5.000 pon. Serangan ini menandai eskalasi terbaru di kawasan yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Pejabat Pentagon menyebutkan, operasi tersebut menargetkan sejumlah situs rudal yang diperkuat di sepanjang garis pantai Iran. Senjata yang digunakan dirancang khusus untuk menembus struktur pertahanan bawah tanah.
Sasaran utama dalam serangan ini adalah rudal jelajah anti-kapal yang sebelumnya digunakan militer Iran untuk mengancam kapal-kapal komersial yang melintasi jalur strategis tersebut.
Komando Pusat AS, United States Central Command, hanya memberikan keterangan terbatas terkait operasi itu, namun memastikan misi berjalan sukses.
“Beberapa jam lalu, pasukan AS berhasil menggunakan beberapa amunisi penetrator seberat 5.000 pon pada situs-situs rudal Iran yang diperkuat di sepanjang garis pantai Iran dekat Selat Hormuz,” demikian pernyataan CENTCOM yang disampaikan melalui media sosial, Kamis (19/3/2026).
CENTCOM menegaskan bahwa keberadaan sistem persenjataan Iran tersebut menjadi ancaman nyata bagi pelayaran internasional. Rudal jelajah anti-kapal yang ditempatkan di kawasan itu dinilai berpotensi mengganggu stabilitas jalur distribusi energi global.
Situasi di kawasan semakin memanas setelah Iran memberlakukan blokade yang secara efektif membatasi akses di Selat Hormuz. Jalur sempit ini diketahui menjadi salah satu titik paling krusial bagi distribusi minyak dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan global melintasinya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya membentuk koalisi internasional guna membuka kembali jalur tersebut. Namun, hingga kini upaya tersebut belum berhasil menggalang dukungan luas dari negara-negara lain.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Washington siap bertindak secara mandiri tanpa bergantung pada bantuan pihak lain.
“Kami tidak membutuhkan terlalu banyak bantuan; sebenarnya, kami tidak membutuhkan bantuan sama sekali,” ujarnya, menegaskan sikap tegas AS dalam menghadapi situasi di kawasan tersebut.














