Azerbaijan Melaporkan Kematian 30 Warga Sipil Dalam Eskalasi Konflik di Nagorno-Karabakh

  • Whatsapp
People look at destroyed buildings in a residential area in Ganja, Azerbaijan, near the border with Armenia, after shelling by Armenian forces that killed two people and wounded several other, Sunday, Oct. 4, 2020. Turkey's foreign ministry has condemned an attack on Ganja, Azerbaijan's second largest city and said the attack was proof of Armenia's disregard for law. (DHA via AP)

Jurnalpatrolinews – Baku : Jumlah korban di antara warga sipil di Azerbaijan telah meningkat menjadi 28, dan 144 orang terluka dalam eskalasi besar dalam konflik di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh, Kantor Kejaksaan Jenderal Azerbaijan melaporkan pada hari Rabu.

“Sampai hari ini, 28 warga sipil telah tewas dan 144 orang cedera sejak 27 September dalam penembakan di permukiman Azerbaijan dari pihak Armenia,” kata badan itu dalam siaran pers. Menurut Kantor Kejaksaan Agung, 66 fasilitas sipil dan 427 bangunan tempat tinggal rusak.

Bacaan Lainnya

Pada hari Selasa, Azerbaijan melaporkan bahwa 27 orang tewas dan 141 luka-luka.

Bentrokan baru antara Azerbaijan dan Armenia meletus pada 27 September, dengan pertempuran sengit berkecamuk di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh. Azerbaijan dan Armenia telah memberlakukan darurat militer dan melancarkan upaya mobilisasi. Kedua pihak yang terlibat konflik telah melaporkan adanya korban, di antaranya adalah warga sipil.

Konflik antara Armenia dan Azerbaijan mengenai wilayah dataran tinggi Nagorno-Karabakh, wilayah sengketa yang pernah menjadi bagian Azerbaijan sebelum pecahnya Uni Soviet, tetapi sebagian besar dihuni oleh etnis Armenia, pecah pada Februari 1988 setelah Otonomi Nagorno-Karabakh Region mengumumkan penarikannya dari Republik Sosialis Soviet Azerbaijan.

Pada 1992-1994, ketegangan memuncak dan meledak menjadi aksi militer skala besar untuk menguasai daerah kantong dan tujuh wilayah yang berdekatan setelah Azerbaijan kehilangan kendali atas mereka. Pembicaraan tentang penyelesaian Nagorno-Karabakh telah berlangsung sejak tahun 1992 di bawah OSCE Minsk Group, dipimpin oleh tiga ketuanya – Rusia, Prancis dan Amerika Serikat.

Pos terkait