JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengumumkan keberhasilan evakuasi dua kru jet tempur F-15E Strike Eagle dengan kode panggil ‘Dude 44’ yang ditembak jatuh di wilayah Iran pada Kamis (2/4).
Operasi yang menjadi bagian dari ‘Operasi Epic Fury’ ini disebut sebagai salah satu misi penyelamatan militer paling kompleks dan berisiko tinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Selasa (7/4), memaparkan kronologi penyelamatan pilot dan perwira persenjataan (WSO) tersebut yang berlangsung dalam dua tahap krusial selama total 45 jam.
Tahap I: Penyelamatan Pilot dan Pengorbanan ‘Sandy’ Sesaat setelah pesawat jatuh pada Kamis, kedua kru berhasil melontarkan diri (eject) dan mendarat di wilayah musuh. Sinyal pemancar darurat mereka segera tertangkap oleh komando militer CENTCOM.
Pada Jumat (3/4), misi SAR tempur pertama diluncurkan dengan melibatkan jet serang darat A-10 Warthog, HC-130 Combat King, dan helikopter HH-60 Jolly Green.
Dalam proses mendekati titik koordinat, sebuah pesawat A-10 dengan kode panggil ‘Sandy’—sebuah sebutan teknis untuk pelindung misi SAR sejak era Perang Vietnam—tertembak hebat oleh pertahanan udara Iran.
Meski rusak berat, pilot A-10 berhasil mengarahkan pesawat ke wilayah kawan sebelum melakukan eject dan dievakuasi. Sementara itu, pilot F-15 (Dude-44 Alfa) berhasil dijemput oleh helikopter HH-60 di tengah hujan tembakan dari pasukan darat Iran.
Tahap II: Taktik Ketinggian dan Pengecohan CIA Tantangan lebih besar muncul saat mengevakuasi WSO (Dude-44 Bravo).
Ia dilaporkan terpisah jauh dari pilotnya dan terus diburu oleh pasukan darat Iran dalam skala besar. Direktur CIA, John Ratcliffe, mengungkapkan bahwa pihaknya menjalankan operasi intelijen khusus untuk membingungkan pengejar.
“Kami melakukan operasi pengecohan dengan menciptakan seolah-olah ada tujuh lokasi berbeda untuk membingungkan musuh,” ujar Ratcliffe.
Dude-44 Bravo yang membawa baterai komunikasi penuh berhasil mendaki hingga ke tebing-tebing curam pegunungan Iran untuk bersembunyi.
Presiden Donald Trump memuji ketahanan fisik kru tersebut yang terus mendaki ke tempat tinggi agar sulit dijangkau musuh.
Totalitas Armada dan Penghancuran Aset Dalam misi kedua pada Minggu (5/4), AS mengerahkan kekuatan masif sebanyak 155 pesawat tempur untuk mengamankan ruang udara. Namun, operasi ini tidak tanpa kerugian.
Dua pesawat pengangkut evakuasi terjebak di tanah pertanian yang lunak akibat kelebihan beban saat hendak lepas landas.
“Kami meledakkan pesawat-pesawat tersebut. Kami tidak ingin teknologi kami diperiksa atau jatuh ke tangan musuh,” tegas Presiden Trump. Akhirnya, kru kedua berhasil dibawa pulang menggunakan pesawat cadangan yang lebih ringan dan cepat.
Secara total, AS mengerahkan 170 pesawat selama 45 jam operasi. Meskipun kehilangan satu unit A-10 Warthog dan dua pesawat angkut, Pentagon menegaskan bahwa misi ini adalah pembuktian janji negara untuk tidak meninggalkan satu pun prajurit di belakang garis musuh.














