Ekonomi Iran Makin Tertekan, Pezeshkian Akui Ekspor-Impor Jatuh 35 Persen

JurnalPatroliNews | Teheran — Tekanan ekonomi terhadap Iran semakin terasa setelah enam bulan perang dengan Amerika Serikat. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui sanksi ekonomi dan blokade maritim yang diberlakukan Washington telah memberikan dampak besar terhadap aktivitas perdagangan negaranya.

Pezeshkian menyebut ekspor dan impor Iran mengalami penurunan sekitar 35 persen akibat tekanan tersebut. Pernyataan itu menjadi salah satu pengakuan paling terbuka dari pemerintah Iran mengenai besarnya dampak sanksi terhadap aktivitas ekonomi nasional.

“Sanksi dan blokade maritim AS telah mengurangi ekspor dan impor negara tersebut sekitar 35 persen,” kata Pezeshkian, sebagaimana dikutip Reuters, Minggu (30/8/2026).

Laporan tersebut menggambarkan kondisi ekonomi Iran yang menghadapi tekanan berlapis. Selain perdagangan luar negeri yang menyusut, laju inflasi tahunan Iran disebut telah mencapai 66 persen pada bulan sebelumnya.

Situasi tersebut membuat persoalan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat semakin menjadi perhatian pemerintah Teheran.

Inflasi dan Pengangguran Jadi Sorotan

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei meminta pemerintah mengambil langkah serius untuk menangani berbagai persoalan ekonomi yang semakin membebani masyarakat.

Sejumlah masalah yang menjadi perhatian antara lain inflasi, pengangguran, kenaikan harga, stabilitas pasar barang dan jasa, serta kebutuhan untuk memperkuat aktivitas ekonomi domestik.

Tekanan ekonomi tersebut berlangsung ketika pemerintah Iran juga harus menghadapi dampak perang dan pembatasan perdagangan. Penurunan arus ekspor dan impor berpotensi mempersempit ruang ekonomi sekaligus meningkatkan tekanan terhadap harga barang serta aktivitas dunia usaha.

Pezeshkian sebelumnya juga menyebut Iran masih berhasil menjual sekitar 90 juta barel minyak selama periode singkat ketika kesepakatan dengan Washington pada Juni sempat membuka ruang terbatas bagi penjualan minyak Iran. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama.

Teheran Tak Mau Mundur

Di tengah memburuknya kondisi ekonomi, pemerintah Iran tetap menunjukkan sikap keras terhadap tekanan Amerika Serikat.

Sejumlah pejabat Iran menegaskan Teheran akan mempertahankan kendali yang mereka klaim atas Selat Hormuz, jalur strategis yang memiliki arti penting bagi perdagangan energi dunia.

Iran juga menyatakan akan merespons tekanan dari Washington, meski pada saat yang sama terdapat sinyal bahwa jalur diplomasi masih dipertahankan. Pembicaraan mengenai kemungkinan penyelesaian dan persoalan Selat Hormuz menjadi bagian dari upaya untuk meredakan ketegangan.

Kondisi itu membuat Iran berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, Teheran berupaya mempertahankan posisi politik dan strategisnya di tengah konflik. Di sisi lain, tekanan ekonomi semakin nyata melalui penurunan perdagangan, inflasi tinggi, dan meningkatnya kebutuhan untuk menjaga kestabilan kehidupan masyarakat.

Dengan perang yang telah memasuki bulan keenam, pengakuan Pezeshkian mengenai merosotnya perdagangan hingga sekitar 35 persen menunjukkan bahwa dampak konflik tidak hanya berlangsung di medan geopolitik, tetapi juga semakin masuk ke sektor ekonomi dan kehidupan sehari-hari masyarakat Iran.

Komentar