Eks PM Israel Peringatkan Netanyahu Bisa Serang Iran Usai Pemilu AS, Ini Alasannya

JurnalPatroliNews | Tel Aviv – Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak memperingatkan kemungkinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali mengambil langkah militer terhadap Iran setelah pemilu sela Amerika Serikat (AS) pada 3 November 2026.

Peringatan tersebut disampaikan Barak di tengah ketidakpastian politik Israel setelah pemilihan parlemen pada 27 Oktober 2026 belum menghasilkan mayoritas yang cukup bagi blok politik mana pun untuk membentuk pemerintahan secara mandiri.

Dalam wawancara dengan France 24 dari Tel Aviv pada Jumat (30/10/2026), Barak menilai Netanyahu berpotensi menggunakan eskalasi militer terhadap Iran untuk mempertahankan posisi politiknya hingga pemilu Israel berikutnya.

Barak bahkan mempertanyakan apakah langkah militer tersebut benar-benar didasarkan pada kepentingan keamanan nasional Israel.

“Hal itu tidak ada hubungannya dengan kepentingan nasional Israel,” kata Barak, dikutip dari France 24.

Ia juga menepis pernyataan Netanyahu mengenai potensi ancaman serangan Iran terhadap Israel. Barak menyebut klaim tersebut sebagai fake news atau berita palsu.

Meski demikian, pernyataan Barak merupakan penilaian politik dari mantan kepala pemerintahan Israel tersebut. Hingga Sabtu (31/10/2026), belum ada konfirmasi mengenai keputusan resmi pemerintah Israel untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilu sela AS.

Netanyahu Klaim Iran Berpotensi Ganggu Pemilu Israel

Pernyataan Barak muncul setelah Netanyahu menyampaikan peringatan mengenai kemungkinan Iran dan kelompok-kelompok sekutunya melakukan serangan untuk mengganggu jalannya pemilu Israel.

Dalam video yang dirilis kantornya pada Minggu (25/10/2026), Netanyahu mengatakan pemerintah memiliki indikasi intelijen mengenai potensi ancaman tersebut.

“Kami memiliki indikasi intelijen bahwa musuh-musuh kami, Iran dan kelompok-kelompok proksinya, dapat menyerang untuk mengganggu pemilu,” ujar Netanyahu.

Ia juga menegaskan bahwa militer Israel telah disiapkan menghadapi berbagai kemungkinan, baik dalam operasi pertahanan maupun tindakan militer lainnya.

Netanyahu sekaligus mengeluarkan peringatan kepada Teheran agar tidak melakukan tindakan yang dapat memicu konfrontasi.

“Jangan menguji kami. Kalian akan menerima serangan balasan yang jauh lebih besar,” tegasnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa isu keamanan dan ancaman Iran menjadi bagian penting dalam perdebatan politik Israel menjelang pemungutan suara.

Netanyahu Sebelumnya Tidak Mendukung Serangan Pendahuluan

Sikap Netanyahu mengenai kemungkinan serangan terhadap Iran juga pernah disampaikan dalam wawancara dengan Radio Militer Israel pada 14 Oktober 2026.

Saat itu, Netanyahu mengatakan dirinya tidak mendukung serangan pendahuluan terhadap Iran menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober.

Dalam pemberitaan Reuters, Netanyahu menyebut langkah tersebut tidak menguntungkan bagi Israel pada saat itu.

Namun, ia tetap menegaskan bahwa Israel akan memberikan respons keras apabila Iran atau kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya menyerang wilayah Israel.

Netanyahu juga tidak memberikan penjelasan lebih lanjut ketika ditanya mengenai kemungkinan tindakan militer setelah pemilu Israel maupun pembicaraannya dengan pemerintah Amerika Serikat.

Perbedaan pernyataan antara Netanyahu dan kritik yang disampaikan Barak memperlihatkan adanya perdebatan mengenai arah kebijakan militer Israel terhadap Iran.

Hasil Pemilu Israel Belum Memberikan Mayoritas

Ketidakpastian politik Israel menjadi latar penting dalam peringatan yang disampaikan Barak.

Berdasarkan hasil penghitungan suara yang dilaporkan pada 30 Oktober 2026, blok yang dipimpin Netanyahu memperoleh 53 kursi di parlemen atau Knesset.

Sementara itu, blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot meraih 48 kursi. Adapun partai-partai Arab memperoleh total 19 kursi.

Dengan demikian, tidak satu pun blok politik memiliki 61 kursi yang dibutuhkan untuk menguasai mayoritas dari total 120 kursi Knesset.

Komposisi tersebut membuat pembentukan pemerintahan baru bergantung pada negosiasi dan kemungkinan kerja sama antarkelompok politik.

Hasil pemilu itu juga menjadi tantangan politik bagi Netanyahu, mengingat blok yang dipimpinnya kehilangan sejumlah kursi dibandingkan komposisi parlemen sebelumnya.

Meski penghitungan suara telah selesai, proses pembentukan pemerintahan masih harus melalui tahapan politik dan konstitusional di Israel.

Pemilu AS dan Masa Depan Kebijakan terhadap Iran

Perhatian terhadap kemungkinan eskalasi militer semakin besar karena Amerika Serikat akan menggelar pemilu sela pada 3 November 2026.

Dalam pandangan Barak, perkembangan politik di Washington dan posisi Netanyahu di dalam negeri dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca kemungkinan perubahan kebijakan Israel terhadap Iran.

Namun, hubungan antara pemilu AS dan kemungkinan serangan militer Israel tersebut masih sebatas penilaian Barak. Belum ada bukti publik yang mengonfirmasi bahwa pemerintah Netanyahu telah menetapkan jadwal atau keputusan operasi militer baru terhadap Teheran.

Di sisi lain, pernyataan Netanyahu mengenai kesiapan militer Israel dan ancaman dari Iran menunjukkan bahwa persoalan keamanan kawasan tetap menjadi isu utama dalam hubungan kedua negara.

Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada keputusan pemerintah Israel, dinamika pembentukan koalisi politik, serta hubungan strategis Israel dan Amerika Serikat.

Peringatan Ehud Barak pun menambah dimensi baru dalam perdebatan mengenai hubungan antara kepentingan keamanan nasional, persaingan politik domestik, dan risiko eskalasi konflik di Timur Tengah.

Komentar