JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang serangan terbaru Iran ke wilayah Arab Saudi telah menyebabkan jumlah tentara Amerika Serikat yang terluka dalam konflik ini melampaui angka 300 orang.
Pangkalan Udara Prince Sultan, yang terletak sekitar 96 kilometer dari Riyadh, menjadi sasaran utama serangan gabungan rudal balistik dan drone pada Jumat (27/3/2026).
Laporan terbaru menyebutkan Iran meluncurkan sedikitnya enam rudal balistik dan 29 unit drone ke pangkalan tersebut. Insiden ini mengakibatkan 15 tentara AS terluka, dengan lima di antaranya dalam kondisi serius.
Pangkalan ini merupakan fasilitas milik Angkatan Udara Arab Saudi yang juga menjadi pusat operasi regional penting bagi militer Amerika Serikat.
Daftar Korban dan Kekuatan Militer Komando Pusat AS (Centcom) mencatat hingga saat ini sedikitnya 13 tentara AS telah gugur selama satu bulan konflik berlangsung.
Korban tewas termasuk enam personel akibat serangan drone di Kuwait dan enam lainnya dalam kecelakaan pesawat pengisian bahan bakar di Irak.
Salah satu prajurit, Sersan Benjamin N. Pennington (26), dilaporkan meninggal dunia akibat luka-luka pasca-serangan di pangkalan Saudi pada awal Maret.
Meski sebagian besar dari 300 korban luka telah kembali bertugas, sekitar 30 personel masih menjalani perawatan intensif, dengan 10 orang di antaranya mengalami cedera kategori berat.
Mobilisasi Aset Amfibi dan Marinir Menanggapi tekanan ini, AS terus mempertebal kehadiran militer di Timur Tengah.
Kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa 2.500 Marinir telah tiba di kawasan, disusul oleh pengerahan USS Boxer dari San Diego.
Saat ini, terdapat sekitar 50.000 personel AS yang bersiaga di kawasan Teluk, menjadikannya penempatan pasukan terbesar dalam dua dekade terakhir.
Tekanan Ekonomi dan Diplomasi Konflik ini tidak hanya menyasar militer, tetapi juga melumpuhkan ekonomi dunia melalui kontrol Iran atas Selat Hormuz. Jalur vital distribusi minyak ini masih terganggu, menyebabkan lonjakan harga bahan bakar global yang signifikan.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa AS masih berupaya mencapai tujuan strategis tanpa pengerahan pasukan darat skala penuh. Namun, Presiden Donald Trump dilaporkan telah memberikan tenggat waktu hingga 6 April 2026 bagi Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran internasional tersebut.
Mantan pejabat keamanan nasional, James Jeffrey, menilai strategi Iran saat ini lebih difokuskan pada penciptaan kekacauan ekonomi global guna menekan sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk. “Iran belum berhenti.
Mereka masih memiliki cadangan rudal dan uranium yang signifikan untuk terus menekan dunia internasional,” ujarnya.










