Iran Kecam Ancaman Sanksi AS terhadap Oman


JurnalPatroliNews – TEHERAN — Pemerintah Iran mengecam keras pernyataan sejumlah pejabat Amerika Serikat yang dinilai mengandung ancaman terhadap Oman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kecaman tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran yang diunggah melalui akun media sosial X, Jumat (29/5/2026).

Dalam keterangannya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyoroti pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent yang mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap Oman. Teheran menilai langkah tersebut merupakan bentuk tekanan politik yang tidak dapat dibenarkan dan berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.

Iran juga mengungkit pernyataan pejabat AS lainnya yang sebelumnya disebut mengandung ancaman untuk “menghancurkan” Oman. Menurut Teheran, retorika semacam itu bertentangan dengan prinsip-prinsip hubungan internasional dan berisiko memperburuk situasi keamanan di Timur Tengah.

“Ancaman untuk menjatuhkan sanksi kepada Oman dengan dalih yang lemah adalah tindakan yang sepenuhnya melanggar hukum dan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta hukum internasional,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.

Iran menegaskan Oman selama ini memainkan peran penting sebagai mediator diplomatik di kawasan. Negara Teluk tersebut kerap menjadi perantara dalam berbagai perundingan sensitif, termasuk komunikasi dan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat.

Karena itu, Teheran menilai tekanan terhadap Oman tidak memiliki dasar yang kuat dan justru berpotensi merusak berbagai upaya diplomasi yang selama ini dijalankan untuk menjaga stabilitas kawasan.

Pernyataan Iran muncul setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan peringatan melalui akun X terkait situasi di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.

“Oman harus memahami bahwa Departemen Keuangan AS akan secara agresif menargetkan pihak mana pun yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, dalam penerapan pungutan di Selat Hormuz,” ujar Bessent.

Ketegangan diplomatik terbaru ini muncul di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap keamanan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk ke pasar internasional. Setiap perkembangan yang melibatkan jalur pelayaran tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dan pergerakan harga minyak dunia.