JurnalPatroliNews | Internasional — Iran kembali menegaskan klaim kemenangan dalam perang melawan Amerika Serikat. Panglima Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, menyatakan Washington gagal mencapai sasaran utama yang ditetapkan dalam operasi militernya.
Pernyataan tersebut disampaikan Hatami dan dikutip dari laporan kantor berita Iran, Fars, pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Menurut dia, keberhasilan mempertahankan kemampuan militer Iran menjadi salah satu dasar Teheran menyebut dirinya sebagai pihak yang menang dalam konflik tersebut.
Hatami mengatakan Amerika Serikat berupaya merusak kemampuan Iran dalam penggunaan rudal dan drone. Namun, menurut dia, upaya itu tidak menghentikan Iran untuk terus mengoperasikan persenjataan tersebut hingga tahap akhir pertempuran.
Dalam pernyataannya, Hatami menekankan bahwa rudal dan drone Iran tetap digunakan dengan intensitas penuh sampai detik-detik terakhir. Karena itu, ia menilai tujuan strategis yang hendak dicapai pihak penyerang tidak sepenuhnya terwujud.
“AS gagal mencapai tujuan yang telah dinyatakannya,” ujar Hatami sebagaimana dikutip Fars.
Hatami kemudian menggunakan perspektif doktrin peperangan untuk menjelaskan dasar klaim tersebut. Menurut dia, dalam perang ofensif, kemenangan biasanya diukur dari kemampuan pihak penyerang mencapai sasaran yang telah ditentukan.
Namun, logika itu berbeda dalam perang defensif. Dalam kondisi tersebut, pihak yang bertahan dapat dinilai berhasil apabila mampu menggagalkan tujuan utama penyerang.
“Jika musuh gagal mencapai tujuannya, maka pihak yang bertahan dapat dianggap sebagai pemenang,” demikian substansi argumentasi Hatami yang diberitakan sejumlah media.
Ketegangan Kembali Memanas
Klaim tersebut muncul ketika konflik Iran-Amerika Serikat kembali memasuki fase penuh ketegangan. Pada 8 Juli 2026, Washington melancarkan gelombang serangan baru terhadap sejumlah sasaran di Iran setelah sebelumnya terjadi insiden yang melibatkan kapal komersial di kawasan Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump pada hari yang sama menyatakan kesepakatan penghentian pertempuran dengan Iran telah berakhir. Kesepakatan sementara sebelumnya dimaksudkan membuka ruang negosiasi lebih lanjut setelah kedua pihak menyepakati memorandum yang dimediasi Pakistan.
Serangan Amerika kemudian dibalas Iran dengan serangan terhadap sejumlah fasilitas dan kepentingan militer AS di kawasan Teluk. Laporan saat itu menyebut Bahrain, Kuwait dan Qatar termasuk wilayah yang terdampak eskalasi terbaru.
Perkembangan tersebut menjadikan Selat Hormuz kembali menjadi titik paling rawan dalam konflik. Jalur pelayaran strategis itu bukan hanya berkaitan dengan kepentingan militer, tetapi juga sangat penting bagi perdagangan energi global.
Di tengah konflik yang masih menyisakan ketegangan tersebut, pernyataan Hatami menunjukkan bahwa Teheran berusaha membangun narasi bahwa tekanan militer Amerika tidak berhasil mematahkan kemampuan pertahanannya.
Namun, klaim kemenangan tersebut merupakan penilaian dari pihak Iran sendiri. Di sisi lain, sejumlah laporan internasional menggambarkan konflik sebagai perang berkepanjangan yang menimbulkan kerusakan besar, tekanan ekonomi, serta ketidakpastian terhadap keamanan kawasan dan jalur energi global.












Komentar