JurnalPatroliNews – Jakarta – Perbedaan pandangan yang tajam masih menyelimuti negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Fokus utama perselisihan terletak pada cakupan dan mekanisme pencabutan sanksi ekonomi terhadap Teheran sebagai imbalan atas pembatasan aktivitas nuklirnya.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa Iran mulai membuka opsi kompromi teknis yang signifikan. Teheran disebut bersedia mengekspor sebagian stok Uranium Diperkaya Tinggi (HEU), menurunkan tingkat kemurnian uranium, hingga mengusulkan pembentukan konsorsium regional untuk pengayaan bersama.
Kendati demikian, Iran tetap bersikeras agar hak mereka dalam melakukan pengayaan nuklir untuk tujuan damai diakui secara internasional.
“Negosiasi terus berlanjut dan kemungkinan tercapainya kesepakatan sementara tetap ada,” ujar seorang pejabat senior Iran sebagaimana dikutip dari Reuters, Minggu (22/2/2026).
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah memfinalisasi draf proposal tandingan menyusul pembicaraan intensif dengan pihak AS pekan ini.
Namun, iklim diplomasi ini terganggu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan adanya pertimbangan opsi serangan militer terbatas guna meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Di sektor ekonomi, Iran menegaskan tidak akan menyerahkan kendali atas sumber daya mineral dan minyaknya kepada pihak asing.
Meski begitu, terdapat sinyal rekonsiliasi ekonomi di mana perusahaan-perusahaan asal AS dikabarkan tetap diperbolehkan berpartisipasi sebagai kontraktor dalam proyek-proyek strategis di ladang minyak dan gas Iran.
Putaran negosiasi berikutnya dijadwalkan berlangsung pada awal Maret mendatang. Forum tersebut diharapkan menjadi penentu apakah kedua negara dapat mencapai titik temu atau justru semakin terjebak dalam eskalasi ketegangan yang lebih luas.














