JurnalPatroliNews – Jakarta – Israel memperketat jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza setelah menilai Hamas lambat menyerahkan jenazah sandera. Keputusan ini diambil meski proses pertukaran masih berlangsung, di tengah kondisi kemanusiaan yang kian memburuk.
Pada Selasa (14/10/2025), Israel mengonfirmasi menerima empat peti mati melalui Palang Merah di perbatasan utara Gaza. Jenazah tersebut segera dibawa untuk pemeriksaan forensik.
Hamas juga mengakui penyerahan jenazah masih dilakukan bertahap. “Kami terus memantau kesepakatan ini sebagai bagian dari upaya menghentikan perang,” ujar juru bicara Hamas, Hazem Qassem.
Namun, Israel merespons lambatnya proses itu dengan mengurangi separuh jumlah truk bantuan yang masuk.
Padahal, selama gencatan senjata sedikitnya 600 truk bantuan dibutuhkan setiap hari untuk menekan krisis pangan. Kini lebih dari 500 ribu warga Gaza menghadapi kelaparan akut.
Situasi di lapangan juga memanas. Ratusan anggota Hamas bersenjata kembali terlihat di jalan-jalan Gaza. Mereka mengawal distribusi bantuan, namun juga melakukan eksekusi terhadap warga yang dituduh sebagai kolaborator Israel.
Dalam sebuah video yang diverifikasi Reuters, terlihat tujuh pria ditembak mati di alun-alun Kota Gaza. Hamas mengonfirmasi eksekusi itu dengan alasan mereka menjadi kaki tangan Israel.
Dari Washington, Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa negaranya siap melucuti senjata Hamas secara paksa jika kelompok itu tidak menyerah.
“Jika mereka tidak melucuti senjata, kami yang akan melakukannya, dengan cepat dan bila perlu menggunakan kekerasan,” tegas Trump.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan perang tidak akan berakhir hingga Hamas menyerahkan seluruh persenjataan dan kendali atas Gaza. Hamas sejauh ini menolak tuntutan tersebut.
Beberapa hari lalu, Trump sempat menyebut adanya “fajar bersejarah bagi Timur Tengah baru” setelah Israel dan Hamas menukar 20 sandera hidup dengan hampir 2.000 tahanan Palestina. Namun, pemulangan 28 jenazah sandera masih menjadi isu paling sensitif dalam kesepakatan.
Menurut sumber Hamas, pihaknya akan menindak tegas penjarah, kaki tangan Israel, maupun pengedar narkoba di Gaza.
Konflik yang pecah sejak serangan 7 Oktober 2023 telah menewaskan 1.200 orang di Israel dan berujung pada penyanderaan 251 orang.
Di sisi lain, otoritas Gaza menyebut sedikitnya 67.000 warga tewas selama perang, dengan ribuan masih terkubur di reruntuhan.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, Dinas Pertahanan Sipil Gaza menemukan lebih dari 250 jenazah baru, menambah daftar panjang korban konflik dua tahun terakhir.












