Israel Hajar Gaza Usai Gencatan Bantu Kemanusiaan Berakhir, 17 Orang Tewas

JurnalPatroliNews – Jakarta – Israel kembali menggempur Gaza hanya sehari setelah masa penghentian serangan sementara berakhir pada Jumat (29/8/2025), kebijakan yang sebelumnya diberlakukan untuk memfasilitasi distribusi bantuan kemanusiaan.

Menurut laporan New York Times, serangan pada Sabtu (30/8/2025) itu menewaskan sedikitnya 17 warga di Kota Gaza. Militer Israel menyebut target utama adalah Abu Obeida, juru bicara Brigade Qassam, sayap militer Hamas. Namun identitas Abu Obeida sendiri sulit diverifikasi karena ia selalu muncul dengan menggunakan topeng dan nama samaran.

Laporan Palestinian Civil Defense mencatat, lima orang meninggal dalam serangan di kawasan Rimal, sementara Direktur RS Al Shifa, Mohammad Abu Salmiya, melaporkan ada 12 korban jiwa dalam serangan lain di dekat sebuah toko roti. Hingga kini, jumlah korban belum dapat dipastikan secara independen, sementara militer Israel menolak memberikan komentar terkait serangan kedua.

Israel diyakini tengah menyiapkan operasi darat besar-besaran untuk merebut Kota Gaza. Ratusan ribu warga Palestina masih bertahan di kota tersebut, meski pihak Israel menyerukan evakuasi. Namun, krisis pangan akut membuat situasi semakin sulit. Program Pangan Dunia (WFP) PBB menyebut jutaan penduduk Gaza menghadapi kelaparan, bahkan sebagian keluarga tidak makan selama beberapa hari.

Pada Juli lalu, Israel sempat mengumumkan penghentian serangan terbatas di beberapa wilayah Gaza untuk membuka jalur bantuan. Akan tetapi, keputusan itu resmi dicabut pada Jumat lalu, dengan dalih mempercepat pengungsian warga dari Kota Gaza.

Presiden Komite Internasional Palang Merah (ICRC), Mirjana Spoljaric, memperingatkan bahwa evakuasi massal tidak mungkin dilakukan secara aman mengingat kehancuran infrastruktur sipil serta keterbatasan makanan, air, tempat tinggal, dan layanan medis.

Sejak perang meletus usai serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang, kampanye militer Israel di Gaza telah merenggut lebih dari 60 ribu nyawa, termasuk ribuan anak-anak, menurut otoritas kesehatan setempat. Meski banyak tokoh Hamas sudah tewas, kelompok tersebut tetap bertahan, merekrut anggota baru, dan masih menahan sekitar 20 sandera hidup serta 28 jenazah warga Israel.

Militer Israel sendiri melaporkan, hingga Sabtu malam, sudah sekitar 900 tentaranya yang gugur di Gaza, termasuk seorang prajurit cadangan yang tewas dalam pertempuran di bagian selatan wilayah itu.