JurnalPatroliNews – Jakarta – Di tengah bencana kelaparan yang semakin memburuk di Gaza, militer Israel dikabarkan menghancurkan lebih dari seribu truk pengangkut bantuan kemanusiaan yang memuat makanan dan obat-obatan untuk warga sipil Palestina.
Tindakan tersebut menambah daftar panjang penderitaan penduduk Gaza, yang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023, telah terjebak dalam krisis kemanusiaan parah.
Menurut laporan yang disampaikan lembaga penyiaran publik KAN, seorang pejabat militer Israel menyatakan bahwa penghancuran bantuan dilakukan karena pengiriman tidak sesuai prosedur distribusi yang ditetapkan oleh otoritas Israel. “Paket-paket ini belum masuk ke Gaza dan tidak sesuai protokol. Jika tidak didistribusikan sesuai ketentuan, maka kami akan musnahkan,” ungkapnya, sebagaimana dikutip oleh Palestine Chronicle.
Tindakan tersebut langsung menyulut gelombang kritik dari komunitas internasional, aktivis kemanusiaan, dan organisasi bantuan global, yang mengecamnya sebagai pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Mereka menilai kebijakan ini justru memperparah krisis kelaparan di Gaza, yang saat ini sudah mencapai tahap mengkhawatirkan.
Di lapangan, kondisi warga Gaza makin memprihatinkan. Banyak keluarga mengandalkan makanan darurat seperti rumput liar, pakan ternak, hingga kulit kentang dan serpihan jagung kering. Beberapa laporan dari pengungsian menyebutkan bahwa makanan bernutrisi hampir tak ditemukan lagi, bahkan untuk anak-anak dan lansia.
Rumah sakit di wilayah tersebut juga melaporkan lonjakan kasus kematian akibat gizi buruk, dengan korban terbanyak berasal dari kalangan balita, lansia, serta pasien dengan penyakit kronis. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa 11,5 persen anak-anak kini mengalami kekurangan gizi akut, dengan sekitar 900 ribu anak berada dalam situasi rawan pangan. Dari jumlah tersebut, 70 ribu anak sudah menunjukkan gejala malnutrisi parah—angka yang jauh melebihi ambang darurat internasional.
Philippe Lazzarini, Kepala UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina), menggambarkan situasi ini sebagai kehancuran moral dan fisik yang merata. Dalam keterangannya di platform X (dulu Twitter), ia menyampaikan bahwa sebagian besar warga Gaza bahkan tak memiliki energi untuk menjalani pengobatan yang disarankan klinik-klinik UNRWA.
“Orang tua sudah terlalu lemah untuk merawat anak-anak mereka. Mereka datang ke klinik tanpa tenaga, tanpa makanan, tanpa harapan. Saran medis pun tak bisa dijalankan karena mereka tak punya apa-apa,” ujar Lazzarini dengan nada getir.
PBB menegaskan bahwa seluruh populasi Gaza—sekitar 2,1 juta jiwa—kini terperangkap dalam kerawanan pangan ekstrem. Tak ada satu pun dari mereka yang memiliki akses terhadap makanan yang cukup, aman, dan bergizi.
Tindakan penghancuran truk bantuan ini tak hanya memperlihatkan krisis kemanusiaan yang belum mereda, tetapi juga membuka kembali perdebatan besar soal blokade, distribusi bantuan, dan tanggung jawab aktor-aktor global terhadap penderitaan warga sipil dalam konflik berkepanjangan ini.














