JurnalPatroliNews – JAKARTA — Konflik antara Iran dan Israel kini memasuki pekan keenam tanpa tanda-tanda mereda. Upaya gencatan senjata masih menemui jalan buntu di tengah minimnya mediator efektif dan sikap keras kedua pihak yang tetap bertahan pada posisinya masing-masing.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik akan berlangsung lebih lama dan berpotensi meluas ke kawasan regional.
Ketua Pusat Studi Amerika Universitas Indonesia, Suzie Sudarman, menilai kebuntuan terjadi karena tidak adanya pihak yang mampu menjembatani kepentingan kedua negara.
“Belum ada titik temu karena tidak ada mediator yang benar-benar bisa diterima kedua pihak,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (4/4/2026).
Perkembangan terbaru ditandai dengan jatuhnya puing hasil intersepsi rudal Iran di wilayah Israel. Insiden tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa serta kerusakan bangunan.
Berdasarkan data layanan darurat Israel, sedikitnya 19 orang dilaporkan tewas akibat kejadian tersebut.
Di sisi lain, konflik juga meluas ke Lebanon melalui keterlibatan Hezbollah. Serangan balasan terus terjadi di berbagai titik, memperumit situasi keamanan di kawasan.
Suzie mengungkapkan, saat ini terdapat upaya diplomasi tertutup yang melibatkan sejumlah negara, termasuk Pakistan, untuk meredakan ketegangan. Namun hingga kini, negosiasi tersebut belum membuahkan hasil konkret.
“Memang ada kelompok negara yang mencoba melakukan negosiasi di balik layar, tetapi belum ada kesepakatan,” jelasnya.
Menurutnya, Iran tidak akan mudah menerima tekanan untuk menghentikan konflik karena merasa bukan pihak yang memulai agresi.
“Iran merasa bukan negara agresor, sehingga kecil kemungkinan mereka akan mengambil langkah menyerah,” tambahnya.
Dengan belum adanya kesepakatan damai serta meningkatnya keterlibatan aktor regional maupun global, konflik Iran–Israel dinilai masih jauh dari penyelesaian. Jika situasi terus berlanjut, ketegangan berpotensi meningkat dan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang.














