Konflik Memanas! AS Balas Serangan Iran Usai Dua Prajurit Tewas

JurnalPatroliNews | Washington – Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah target di Iran setelah dua personel militernya tewas dalam serangan yang dilancarkan Iran terhadap pasukan AS di Yordania. Aksi tersebut memperpanjang eskalasi konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi udara terbaru merupakan serangan malam kedelapan secara berturut-turut yang ditujukan untuk melemahkan kemampuan militer Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Dalam keterangannya, CENTCOM menegaskan bahwa operasi tersebut dirancang untuk mengurangi ancaman terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz sekaligus memberikan respons cepat atas serangan yang menewaskan dua prajurit AS di Yordania.

Media Iran, Fars dan Tasnim, melaporkan bahwa serangan udara AS menghantam wilayah Sirik, sebuah kota pelabuhan strategis di pesisir selatan Iran yang berada di kawasan Selat Hormuz.

Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran menegaskan negaranya akan memberikan “pelajaran yang tak terlupakan” kepada Amerika Serikat sebagai balasan atas rangkaian serangan Washington yang selama sepekan terakhir diklaim menghantam sejumlah infrastruktur penting Iran, termasuk bandara, stasiun kereta api, dan jembatan.

Ketegangan kedua negara kembali meningkat meski sekitar sebulan sebelumnya Washington dan Teheran sempat mencapai kesepakatan awal untuk menghentikan konflik. Kesepakatan tersebut kini telah gagal dipertahankan.

Di tengah memburuknya situasi, Iran juga dilaporkan melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak di Kuwait serta infrastruktur pembangkit listrik dan instalasi air. Pemerintah Kuwait mengonfirmasi adanya serangan tersebut, sementara militer Bahrain menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menggagalkan gelombang serangan rudal dan drone yang diarahkan ke wilayahnya.

Serangan terbaru Iran ke pangkalan militer AS di Yordania menambah jumlah korban jiwa personel militer Amerika menjadi 16 orang sejak konflik antara kedua negara kembali pecah pada 28 Februari lalu. Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan Teluk dan ancaman terhadap stabilitas jalur perdagangan energi global.

Komentar