Korban Jiwa Aksi Unjuk Rasa di Iran Dilaporkan Lampaui 4.000 Orang

JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang aksi protes yang meluas di berbagai wilayah Iran dilaporkan telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Lembaga pemantau hak asasi manusia, Activist News Agency, menyebut jumlah kematian akibat bentrokan dan tindakan represif aparat kini telah melampaui angka 4.000 orang.

Dalam pernyataannya pada Senin, 19 Januari 2026, kelompok tersebut mengungkapkan bahwa sedikitnya 4.029 korban meninggal telah terkonfirmasi. Selain itu, lebih dari 9.000 laporan kematian lainnya masih dalam proses pendataan dan verifikasi.

Peningkatan jumlah korban terjadi sangat cepat. Hanya dua hari sebelumnya, pada 17 Januari 2026, angka korban tewas baru menembus 3.000 orang, menunjukkan lonjakan signifikan dalam waktu singkat.

Tak hanya korban meninggal, ribuan warga juga dilaporkan mengalami luka serius. Activist News Agency mencatat lebih dari 5.800 orang menderita cedera berat, sementara jumlah demonstran yang ditahan aparat keamanan disebut telah melampaui 26.000 orang.

Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi terkait jumlah korban. Meski demikian, otoritas di Teheran sempat mengakui bahwa korban jiwa sejak pecahnya aksi protes telah mencapai angka ribuan.

Aksi unjuk rasa tersebut dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi nasional dan meluas menjadi protes politik. Pemerintah merespons dengan langkah-langkah keras, termasuk pembatasan dan pemutusan akses internet di sejumlah wilayah untuk menekan arus informasi.

Di tengah situasi yang memanas, sekelompok peretas dilaporkan mengganggu siaran televisi pemerintah Iran pada Senin. Berdasarkan laporan Associated Press, gangguan tersebut disertai pesan dukungan terhadap Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang berada di pengasingan dan menyerukan perlawanan terhadap rezim.

Dalam tayangan yang sempat muncul, peretas menyampaikan pesan kepada militer Iran agar tidak mengarahkan senjata kepada warga sipil dan mengajak bergabung dengan rakyat dalam memperjuangkan kebebasan.

Situasi Iran juga mendapat perhatian dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menilai Teheran perlu mempertimbangkan kepemimpinan baru, menyusul tudingan pemerintah Iran yang menyalahkan Washington atas kekacauan di dalam negeri.

“Seorang pemimpin seharusnya fokus mengelola negaranya dengan benar, bukan mempertahankan kekuasaan dengan mengorbankan ribuan nyawa rakyatnya,” ujar Trump dalam pernyataannya kepada Politico.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa pemerintahannya telah mengendalikan keadaan. Dalam unggahan di platform X, ia menyatakan bahwa api hasutan telah dipadamkan, seraya menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang berada di balik kerusuhan.

“Kami tidak akan membawa negara ini ke arah perang, tetapi kami juga tidak akan membiarkan para pelaku kejahatan, baik dari dalam maupun luar negeri,” tegas Khamenei.