JurnalPatroliNews | Teheran – Gelombang duka sekaligus kemarahan menyelimuti Iran saat prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, resmi dimulai di Grand Mosalla, Teheran. Ribuan hingga ratusan ribu warga memadati lokasi untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin yang memimpin Republik Islam Iran selama hampir empat dekade.
Di tengah suasana berkabung, massa secara terbuka menyerukan balas dendam atas kematian Khamenei yang tewas dalam serangan udara yang disebut dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan pengamanan sangat ketat. Peti jenazah yang diselimuti bendera nasional Iran ditempatkan di pusat arena, sementara personel Garda Revolusi Iran (IRGC) berjaga mengamankan seluruh rangkaian upacara.
Nuansa simbolik begitu terasa ketika bendera merah berkibar di berbagai sudut Grand Mosalla. Dalam tradisi Syiah, bendera merah menjadi lambang kemartiran sekaligus seruan untuk menuntut balas atas darah yang tertumpah.
Pemerintah Iran juga mengusung slogan resmi “Kita Harus Bangkit” sebagai tema penghormatan terakhir bagi Khamenei. Foto-foto sang pemimpin dipasang di berbagai ruas jalan utama Teheran sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbol persatuan nasional.
Sejak sehari sebelum prosesi utama digelar, masyarakat telah memadati kompleks pemakaman. Banyak di antara mereka datang dari berbagai wilayah Iran untuk menyampaikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama hampir 37 tahun memimpin negara tersebut.
Suasana emosional semakin terasa ketika sejumlah video yang beredar memperlihatkan massa meneriakkan slogan “Matilah Amerika” dan “Matilah Israel”, sebagai bentuk kemarahan atas kematian pemimpin mereka.
Salah seorang pelayat bernama Fatemah mengaku kehadirannya bukan hanya untuk berkabung, tetapi juga menunjukkan tekad rakyat Iran melanjutkan perjuangan yang diyakini diwariskan Ali Khamenei.
“Kami di sini untuk membalaskan dendam bagi para pemimpin kami,” ujarnya.
Ia juga menyatakan keyakinannya terhadap kepemimpinan baru Iran di bawah Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei, yang telah ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
“Kami akan mendengarkan putranya. Dia akan membimbing revolusi ke depan,” katanya.
Prosesi pemakaman ini menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan politik Iran modern. Selain menjadi penghormatan terakhir kepada pemimpin tertinggi negara, rangkaian acara juga memperlihatkan kuatnya sentimen nasionalisme dan semangat perlawanan yang terus bergema di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.










Komentar