Mayoritas Publik AS Ragukan Strategi Trump di Perang Iran


JurnalPatroliNews – Jakarta –  Mayoritas warga Amerika Serikat mulai menunjukkan keraguan terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump dalam konflik melawan Iran yang telah memasuki pekan ketujuh. Persepsi publik dinilai semakin kritis, terutama terkait strategi perang yang dianggap belum jelas serta minim capaian konkret.

Hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis Politico mengungkapkan dukungan terhadap operasi militer masih terbatas. Hanya 38 persen responden yang menyatakan mendukung serangan tersebut, angka yang tidak banyak berubah sejak fase awal keterlibatan Amerika Serikat bersama Israel.

Survei tersebut juga menunjukkan mayoritas responden menilai konflik ini tidak sejalan dengan kepentingan nasional AS. Selain itu, tingkat kepercayaan publik terhadap arah kebijakan presiden dinilai rendah.

“Mayoritas responden mengatakan perang tersebut bukan untuk kepentingan nasional, sementara sebagian besar menyatakan sedikit kepercayaan bahwa presiden memiliki tujuan yang jelas,” demikian isi laporan tersebut, dikutip Minggu (19/4/2026).

Keraguan tidak hanya datang dari publik umum, tetapi juga mulai terasa di kalangan pendukung Trump sendiri. Sebagian dari basis politiknya dilaporkan mulai mempertanyakan arah serta tujuan akhir dari konflik tersebut.

Sementara itu, survei yang dilakukan Public First mencatat 41 persen warga Amerika percaya Trump tidak memiliki rencana jelas untuk mengakhiri perang. Angka ini relatif stagnan dibandingkan bulan sebelumnya.

Hanya 15 persen responden yang menilai presiden telah mencapai targetnya. Sebaliknya, sekitar 40 persen meyakini target tersebut tidak akan tercapai atau bahkan belum terdefinisi dengan baik.

Menanggapi kritik tersebut, Gedung Putih menegaskan bahwa strategi yang dijalankan bersifat menyeluruh, mencakup pendekatan militer, diplomasi, serta agenda domestik.

Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menyatakan bahwa pemerintah terus berupaya mengamankan kesepakatan dengan Iran sekaligus menjaga stabilitas pasar energi global, sembari tetap menjalankan program ekonomi dalam negeri.

Namun demikian, pernyataan Trump yang dinilai tidak konsisten turut memperkuat ketidakpastian. Dalam wawancara terbaru, ia menyebut konflik akan segera berakhir, meski kondisi di lapangan masih menunjukkan eskalasi, termasuk kebijakan blokade terhadap pelabuhan Iran yang memicu kekhawatiran global.

Di internal Partai Republik, dukungan terhadap Trump secara terbuka masih terjaga. Meski begitu, muncul kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dan tekanan ekonomi dapat berdampak pada dinamika politik domestik ke depan.