Militer China Hadir di Indo-Pasifik, Inggris, AS, dan Australia Sepakati Pakta Pertahanan Untuk Menangkal Kekuatan Tiongkok

  • Whatsapp
Kemitraan pertahanan antara AS, Inggris dan Australia awalnya akan berfokus untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir untuk Angkatan Laut Australia.

JurnalPatroliNews – Inggris, Amerika Serikat, dan Australia mengumumkan perjanjian kerja sama internasional untuk saling mendukung teknologi pertahanan, sebagai upaya dalam menangkal kekuatan China.

Kerja sama ini akan memungkinkan Australia untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir untuk pertama kalinya.

BACA JUGA :

Kesepakatan yang disebut sebagai Pakta Aukus ini juga mencakup teknologi kecerdasan buatan, teknologi kuantum, dan siber.

Ketiga negara ini mengkhawatirkan pertumbuhan kekuatan dan kehadiran militer China di kawasan Indo-Pasifik.

Buntut dari pakta tersebut, Australia telah membatalkan perjanjian pembelian kapal selam rancangan Prancis.

Pada 2016 lalu, Prancis memenangkan kontrak pembuatan 12 kapal selam untuk Angkatan Laut Australia sebesar A$50 miliar (Rp522 triliun). Namun, proyek tersebut mengalami penundaan karena Australia mengajukan syarat agar pembuatan kapal selam itu menggunakan banyak komponen dalam negeri.

Pada Rabu (15/09), Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dan Perdana Menteri Scott Morrison merilis pernyataan bersama. Pernyataan ini terkait dengan kesepakatan keamanan terbaru, yang dinamai Aukus.

“Sebagai inisiatif pertama di bawah Aukus… kami punya ambisi bersama untuk mendukung Australia memperoleh kapal selam bertenaga nuklir untuk Angkatan Laut Australia,” sebut pernyataan itu.

“Kemampuan ini akan mendorong stabilitas di Indo-Pasifik, dan akan digunakan untuk mendukung nilai dan kepentingan kita bersama,” tambah pernyataan tersebut.

Ketiga pemimpin negara itu mengatakan tujuan kesepakatan yang mereka buat adalah “membawa kemampuan Australia untuk dikerahkan sesegera mungkin”. Meski demikian, “Australia tetap berkomitmen untuk memenuhi semua kewajiban sebagai negara yang tak menggunakan senjata nuklir.”

Lebih lanjut, pakta ini mengatakan kesepakatan pertahanan ini juga akan fokus pada pertahanan siber, kecerdasan buatan, dan “pertahanan bawah laut tambahan”.

Pemerintah Inggris mengatakan, perjanjian pertahanan ini merupakan kesepakatan yang sangat signifikan – Hal ini diperkuat dengan kemunculan pemimpin Inggris, Amerika Serikat, dan Australia secara bersama-sama dalam konferensi video untuk mengumumkan kerja sama ini.

Kesepakatan ini juga menandai semakin pentingnya wilayah Indo-Pasifik bagi AS dan Inggris.

Tentunya ini mendatangkan konsekuensi bagi dua negara lainnya. Pertama, Prancis sebagai sekutu NATO, yang telah menandatangani kesepakatan membangun kapal selam diesel-listrik untuk Angkatan Laut Australia. Kini kesepakatan itu dibatalkan.

Kedua, adalah China. Walau pejabat Inggris berkeras bahwa perjanjian tersebut bukan untuk menanggapi negara manapun, pemerintah Inggris mengatakan kemitraan ini berupaya memastikan kemakmuran, keamanan, dan stabilitas di kawasan serta mendukung “tatanan berlandaskan aturan” yang damai.

Bukan rahasia lagi bahwa Inggris, AS, dan Australia berbagi keprihatinan mengenai pengerahan kekuatan militer China di Indo-Pasifik.

PM Inggris, Boris Johnson, mengatakan bahwa negaranya, AS, dan Australia adalah sekutu alami, dan aliansi yang dibangun akan “membawa kami lebih dekat lagi dari sebelumnya”.

“Kemitraan ini akan menjadi semakin penting untuk membela kepentingan kita dan… melindungi warga kita di dalam negeri,” katanya.

Dalam pekan-pekan terakhir, kapal induk HMS Queen Elizabeth telah diutus menuju wilayah Indo-Pasifik bersama dengan pasukan dan perangkat dari AS.

Pernyataan bersama ketiga negara mengatakan Indo-Pasifik merupakan wilayah dengan potensi konflik, termasuk sengketa wilayah yang belum selesai, ancaman terorisme, dan kejahatan yang terorganisir.

“Kemitraan ini berada di garis terdepan dari tantangan keamanan terbaru, termasuk di dunia maya,” jelas pernyataan ketiga negara.

Pos terkait