9 dibaca,  3 dibaca hari ini

JurnalPatroliNews-London – Ribuan singa diternakkan di Afrika Selatan, namun mirisnya singa-singa itu bukannya dirawat tapi malah dijadikan sasaran tembak para turis. Mitosnya, tulang menjadi obat seks.
Fakta mengerikan itu disampaikan oleh pengusaha sekaligus filantropi asal Inggris Lord Ashcroft. Konservasionis itu menyebutkan dalam bukunya Unfair Game: An Exposé Of South Africa’s Captive-Bred Lion Industry, peternakan singa sudah menjadi industri dan memalukan Afrika Selatan.

Berapa tarif buat turis yang ingin menembak singa? Menurut Ashcroft di bukunya, seekor singa jantan dengan rambut yang bagus bisa senilai USD 500.000 atau sekitar Rp 700 jutaan untuk ‘pemiliknya’.

Bangkai singa malang yang sudah mati pun dijadikan komoditi lain untuk dijual ke negara Asia. Di sana dia menyebutkan tulang singa menjadi obat yang dipercaya bisa meningkatkan gairah seks.

“Hanya ada 3.000 singa di alam liar di negara Afrika Selatan, sementara 12.000 singa diternakkan,” ujarnya.

Namun bukan hanya singa saja yang menjadi sasaran tembak, kucing besar lain seperti harimau pun masuk daftar. Dalam video yang dirilis Lord Ashcroft terlihat seekor harimau yang sudah dikuliti.

Hewan yang diternakkan itu kadang ditempatkan di kandang kecil yang tidak higienis dengan sedikit makanan. Membuat mereka susah untuk bergerak. Sayangnya menurut Lord Ashcroft peternakan Singa diperbolehkan di negara itu dan para peternak bisa beroperasi tanpa batasan.

“Peternakan singa sangat memalukan Afrika Selatan, sebuah negara yang saya suka kunjungi selama beberapa tahun,” ujar pria bernama lengkap Michael Anthony Ashcroft itu.

Sebenarnya Ashcroft dan tim sudah berupaya melaporkan beberapa peternakan singa itu pada kepolisian setempat. Tapi, seorang pejabat polisi senior menolak bukti-bukti termasuk bukti video yang mereka sampaikan dan bahkan mengancam untuk menangkap mereka.

“Saya sudah meminta pemerintah Afrika Selatan untuk menghentikan perdagangan singa ini. Itu adalah sebuah industri yang kejam dan barbar yang tidak punya tempat di abad 21,” ujarnya.(/lk/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *