JurnalPatroliNews – Jakarta -Angkatan Laut Sri Lanka berhasil mengevakuasi sedikitnya 30 pelaut yang mengawaki kapal frigat milik Angkatan Laut Iran, IRIS Dena, yang dilaporkan tenggelam di perairan teritorial Sri Lanka pada Rabu (4/3/2026).
Kapal perang tersebut diketahui membawa total 180 kru sebelum akhirnya mengirimkan sinyal darurat pada dini hari tadi.
Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, mengonfirmasi bahwa pemerintahnya segera mengerahkan dua kapal Angkatan Laut dan satu unit pesawat terbang untuk melaksanakan operasi penyelamatan segera setelah sinyal bahaya diterima.
Meski demikian, Herath belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab pasti tenggelamnya kapal tersebut maupun keterkaitannya dengan eskalasi serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran.
Juru Bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Buddhika Sampath, menegaskan bahwa tindakan ini murni merupakan bagian dari kewajiban operasi maritim internasional.
Ia menjelaskan bahwa pihaknya mematuhi mandat internasional terkait bantuan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) di kawasan Samudra Hindia bagi kapal mana pun yang mengalami keadaan darurat medis atau teknis.
Berdasarkan laporan sumber lokal, para pelaut yang berhasil diselamatkan telah dibawa ke fasilitas kesehatan di Galle, wilayah yang terletak sekitar 115 kilometer di sebelah selatan Kolombo, untuk mendapatkan perawatan medis. Hingga saat ini, nasib sisa kru lainnya masih dalam tahap pencarian oleh tim gabungan.
Insiden tenggelamnya IRIS Dena terjadi di tengah kampanye militer intensif yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Presiden Donald Trump sebelumnya telah menyatakan target untuk melumpuhkan aset-aset strategis Iran, termasuk peluncur rudal dan armada Angkatan Laut.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dalam laporan terbarunya mengeklaim telah menghancurkan sedikitnya 11 kapal militer Iran di sekitar Teluk Oman dalam operasi yang berlangsung sepekan terakhir.
Kawasan Samudra Hindia kini menjadi perhatian dunia internasional seiring meluasnya dampak konflik di Timur Tengah ke jalur pelayaran strategis global.
Pemerintah Sri Lanka menyatakan akan terus memantau situasi di perairan mereka guna memastikan keselamatan jalur maritim dari potensi gangguan konflik regional tersebut.













