JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemimpin umat Katolik dunia, Paus Leo XIV, menyampaikan teguran langsung kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, usai terjadinya serangan terhadap Gereja Katolik Keluarga Kudus di Gaza yang menelan korban jiwa.
Melansir Vatican News, Vatikan menyampaikan bahwa Paus melakukan percakapan melalui sambungan telepon dari kediamannya di Castel Gandolfo pada Sabtu, 19 Juli 2025. Dalam percakapan tersebut, Paus menyampaikan keprihatinannya yang mendalam terhadap kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza.
“Dari kediaman di Castel Gandolfo, Paus Leo XIV berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu,” demikian bunyi pernyataan resmi dari Kantor Pers Takhta Suci.
Paus secara khusus menyoroti penderitaan kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang sakit, yang semakin parah akibat konflik yang tak kunjung reda. Ia menekankan pentingnya melindungi tempat-tempat suci dan mendesak semua pihak untuk menghentikan kekerasan.
“Bapa Suci kembali menyerukan pentingnya penghentian perang, dimulainya kembali dialog damai, dan perlindungan terhadap semua tempat ibadah,” lanjut pernyataan Vatikan.
Paus juga menyampaikan duka mendalam atas serangan terhadap Gereja Keluarga Kudus di Gaza pada Kamis, 17 Juli 2025, yang menewaskan tiga orang dan melukai sepuluh lainnya, termasuk Pastor Gabriel Romanelli, pemimpin paroki setempat.
Pemerintah Israel, melalui pernyataan resmi Kantor Perdana Menteri, menyatakan penyesalan atas insiden tersebut. Mereka menyebutkan bahwa serangan itu bukan target yang disengaja dan mengakibatkan korban sipil karena kesalahan tembakan.
“Kami sangat menyesalkan bahwa sebuah peluru mengenai Gereja Keluarga Kudus secara tidak sengaja. Kehilangan nyawa warga sipil tak berdosa adalah tragedi. Kami menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan komunitas gereja,” demikian bunyi pernyataan dari pihak Israel.
Paus Leo XIV terus mengajak komunitas internasional untuk mendesak dilakukannya gencatan senjata dan pemulihan proses perdamaian demi menghentikan derita berkepanjangan di wilayah konflik tersebut.














