JurnalPatroliNews – Jakarta – Perdana Menteri India, Narendra Modi, menegaskan bahwa tantangan terbesar negaranya bukanlah perseteruan dengan negara lain, melainkan ketergantungan berlebihan pada kekuatan asing. Hal ini ia sampaikan saat meresmikan sejumlah proyek maritim bernilai lebih dari US$40 miliar atau sekitar Rp624 triliun.
Dalam pidatonya di Gujarat, Modi menekankan pentingnya kemandirian ekonomi untuk mencapai kemakmuran sekaligus menjaga kedaulatan nasional.
“Kalau mau disebut musuh, musuh terbesar kita adalah ketergantungan pada pihak luar,” ujar Modi, dikutip Sabtu (27/9/2025).
Menurutnya, ketergantungan itu bukan hanya merugikan perekonomian, tapi juga bisa meruntuhkan harga diri bangsa.
“Jika kita terus berharap pada orang lain, martabat kita pun ikut tercoreng. Kita tidak bisa menyerahkan masa depan generasi mendatang pada tangan asing,” lanjutnya.
Modi juga menyoroti peran strategis sektor maritim, terutama industri galangan kapal dan pengembangan teknologi dalam negeri. Ia mengingatkan, 50 tahun lalu kapal-kapal India menguasai 40% perdagangan internasional, namun kini tinggal 5%.
“Uang miliaran dolar yang kita bayar tiap tahun ke perusahaan pelayaran asing jumlahnya hampir setara dengan anggaran pertahanan negara. Baik chip maupun kapal, harus kita buat sendiri di India,” tegasnya.
Pernyataan ini muncul saat hubungan perdagangan India dengan Amerika Serikat memanas. Bulan lalu, Washington menjatuhkan tarif 25% pada sebagian besar produk impor asal India, menyusul pembelian minyak Rusia oleh New Delhi.
Selain itu, Gedung Putih juga memperkenalkan biaya tahunan baru sebesar US$100.000 untuk aplikasi visa H-1B, yang selama ini banyak digunakan pekerja teknologi asal India. Asosiasi industri IT India, Nasscom, memperingatkan kebijakan ini bakal memukul ribuan tenaga ahli mereka di pasar global.








