Produksi Minyak Rusia Dipangkas, Pasar Global Terancam Makin Ketat

JurnalPatroliNews | Vladivostok — Rusia bersiap menghadapi penurunan produksi minyak mentah pada 2026. Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyebut pelemahan produksi tersebut masih bersifat sementara karena sejumlah kilang domestik beroperasi di bawah kapasitas akibat pemeliharaan yang tidak terjadwal.

Novak menyampaikan hal itu di sela-sela forum ekonomi di Vladivostok, Kamis (3/9/2026). Menurut dia, produksi minyak Rusia diperkirakan kembali meningkat setelah kegiatan pemeliharaan kilang selesai dan kondisi operasional kembali stabil.

“Ini sebagian disebabkan kilang minyak beroperasi di bawah kapasitas karena pemeliharaan yang tidak terjadwal. Namun, ini merupakan fenomena sementara dan pada prinsipnya, ketika kilang kembali beroperasi serta situasi stabil, produksi akan meningkat,” kata Novak, seperti dilansir Reuters.

Meski pemerintah Rusia menyebut pelemahan tersebut bersifat sementara, proyeksi produksi nasional menunjukkan tekanan yang lebih besar. Rancangan proyeksi pemerintah yang ditelaah Reuters memperlihatkan perkiraan produksi minyak Rusia tahun ini diturunkan ke level terendah dalam 17 tahun.

Proyeksi tersebut juga merevisi perkiraan produksi untuk periode 2026–2029 dengan pengurangan antara 16 juta ton hingga 20 juta ton dibandingkan perkiraan sebelumnya yang diterbitkan pada Mei 2026. Dokumen itu diperkirakan difinalisasi pada akhir September dan menjadi salah satu dasar penyusunan anggaran Rusia.

Novak mengakui Rusia saat ini mengalami apa yang disebutnya sebagai penurunan sebagian volume produksi dibandingkan dengan angka yang sebelumnya diproyeksikan.

Namun, pemerintah Rusia masih melihat kondisi tersebut sebagai persoalan yang dapat dipulihkan setelah kapasitas kilang kembali normal.

Perang Ukraina Tekan Prospek Ekspor

Revisi tersebut tidak berdiri sendiri. Pemerintah Rusia juga mengubah prospek ekspor bahan bakar untuk 2026 dan 2027 di tengah berlanjutnya perang dengan Ukraina.

Gangguan terhadap kapasitas pengolahan minyak menjadi salah satu persoalan yang semakin mendapat perhatian. Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia juga telah berkontribusi terhadap tekanan pada kapasitas pengilangan dan pasokan bahan bakar domestik.

Kondisi itu membuat arah produksi dan ekspor energi Rusia menjadi perhatian penting bagi pasar global, mengingat posisi Rusia sebagai salah satu produsen dan eksportir minyak utama dunia.

Di tengah ketidakpastian pasokan, setiap perubahan produksi Rusia berpotensi memengaruhi keseimbangan pasar, terutama ketika pasar minyak juga menghadapi gangguan dari kawasan Timur Tengah.

Novak turut menyoroti peran OPEC+ dalam menghadapi kondisi pasar minyak dunia. Berdasarkan perhitungan Reuters, negara-negara OPEC+ menyumbang sekitar 40% produksi minyak global pada Juli 2026.

Menurut Novak, kelompok produsen tersebut menghadapi tantangan lokal akibat gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Meski demikian, ia menilai pengaruh OPEC+ terhadap pasar energi dunia tetap sangat besar karena kapasitas produksi anggotanya dan besarnya porsi ekspor yang mereka kuasai.

“Namun demikian, peran OPEC tetap signifikan karena volume produksi negara-negara anggota OPEC sangat tinggi dan mencakup porsi besar ekspor global. Oleh karena itu, hal ini tidak diragukan lagi akan terus memberikan dampak signifikan terhadap pasar global,” ujar Novak.

Pernyataan tersebut muncul ketika pasar minyak sedang berada dalam tekanan geopolitik yang tinggi. Pada Kamis (3/9/2026), harga Brent sempat naik hingga sekitar US$97,29 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai sekitar US$93,04 per barel, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap arus minyak melalui Selat Hormuz.

Data pelayaran juga menunjukkan penurunan jumlah kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz. Situasi tersebut menambah kekhawatiran investor terhadap kesinambungan pasokan minyak global.

Perkembangan terbaru menunjukkan pasar minyak menghadapi dua tekanan sekaligus. Di satu sisi, Rusia melakukan penyesuaian proyeksi produksi dan menghadapi persoalan kapasitas kilang. Di sisi lain, gangguan geopolitik di Timur Tengah membuat jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz semakin rentan.

OPEC+ sebenarnya telah meningkatkan kuota produksinya secara bertahap sepanjang 2026. Namun, kenaikan kuota tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam produksi aktual karena berbagai gangguan terhadap pasokan, termasuk konflik di Iran, Ukraina, serta hambatan pada infrastruktur energi.

Karena itu, penurunan produksi Rusia tidak otomatis berarti terjadi kekurangan pasokan minyak dunia dalam waktu dekat. Pemulihan produksi Rusia, kebijakan OPEC+, kemampuan negara produsen lain meningkatkan output, serta perkembangan konflik geopolitik akan menjadi faktor penentu keseimbangan pasar dalam beberapa bulan mendatang.

Bagi pasar energi, perhatian kini tertuju pada seberapa cepat kilang Rusia kembali beroperasi normal dan apakah revisi proyeksi produksi tersebut hanya bersifat sementara atau menjadi sinyal tekanan yang lebih panjang terhadap kapasitas produksi dan ekspor minyak Rusia.

Komentar