Reaktor Nuklir China Ditutup Usai Kerusakan Terdeteksi

  • Whatsapp
PLTN Taishan yang beroperasi sejak tahun 2018 merupakan proyek gabungan China dan Prancis (PETER PARKS AFP/File)

JurnalPatroliNews, Beijing – Sebuah reaktor di pembangkit nuklir milik China ditutup usai mengalami kerusakan. Kendati demikian, otoritas China bersikeras tidak ada masalah keselamatan besar yang disebabkan oleh kerusakan itu.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (31/7/2021), otoritas China, bulan lalu, menyebut adanya kerusakan kecil pada batang bahan bakar (fuel rod) untuk penumpukan gas radioaktif di pembangkit nuklir Taishan, Provinsi Guangdong. Saat itu, otoritas China menyebutnya sebagai ‘fenomena umum’ yang tidak perlu dikhawatirkan.

Perusahaan nuklir Prancis, Framatome, yang membantu operasional pembangkit nuklir China itu, bulan lalu melaporkan adanya ‘masalah kinerja’ yang membuat Amerika Serikat (AS) memeriksa dugaan kebocoran di sana.

Dalam pernyataan terbaru pada Jumat (30/7) waktu setempat, pihak China General Nuclear Power Group (CGN) selaku operator pembangkit nuklir itu mengumumkan penutupan reaktor nomor satu.

“Setelah percakapan panjang antara personel teknis Prancis dan China, Pembangkit Tenaga Nuklir Taishan… memutuskan untuk menutup Unit 1 untuk pemeliharaan,” demikian pernyataan CGN.

CGN menambahkan bahwa ‘sejumlah kecil kerusakan bahan bakar’ telah terjadi. Disebutkan juga bahwa kedua reaktor di pembangkit tenaga nuklir itu telah ‘mempertahankan operasional yang aman dan stabil’ dan bahwa unit yang bermasalah kini ‘sepenuhnya terkendali’.

Menurut CGN dalam pernyataannya, para teknisi kini akan ‘mencari penyebab kerusakan bahan bakar dan mengganti bahan bakar yang rusak’.

Kementerian Lingkungan dan regulator nuklir China sebelumnya menyatakan ada lebih dari 60.000 batang bahan bakar di reaktor tersebut dan proporsi batang bahan bakar yang rusak diklaim mencapai ‘kurang dari 0,01 persen’. Mereka menyebut kerusakan itu ‘tak terhindarkan’ karena berbagai faktor termasuk manufaktur bakar bakar dan transportasi.
Mulai beroperasi tahun 2018, PLTN Taishan merupakan yang pertama di dunia yang mengoperasikan reaktor nuklir EPR generasi selanjutnya — reaktor yang memiliki desain air bertekanan. Reaktor EPR yang memproduksi lebih sedikit limbah ini dibanggakan sebagai kemajuan menjanjikan dalam keamanan dan efisiensi jika dibandingkan reaktor konvensional.

Menurut data Otoritas Energi Nasional, pembangkit nuklir memasok kurang dari lima persen kebutuhan listrik tahunan China pada tahun 2019. Namun angka ini diperkirakan akan meningkat karena China berupaya netral karbon tahun 2060 mendatang.

China diketahui memiliki 47 pembangkit nuklir dengan total kapasitas 48,75 gigawatt — merupakan tertinggi ketiga di dunia setelah AS dan Prancis — dan telah menginvestasikan miliaran dolar AS untuk pengembangan sektor energi nuklirnya.

(dtk)

Pos terkait