Reza Pahlavi Mengemuka sebagai Figur Alternatif di Tengah Krisis Iran

JurnalPatroliNews – Jakarta – Situasi politik Iran masih berada dalam pusaran ketidakpastian. Tekanan ekonomi yang kian berat, ruang kebebasan yang menyempit, serta mandeknya agenda reformasi membuat sebagian masyarakat mencari sosok baru yang diyakini mampu membawa arah perubahan. Dalam konteks inilah nama Reza Pahlavi kembali mencuat ke permukaan.

Reza Pahlavi merupakan anak sulung Mohammad Reza Pahlavi, penguasa terakhir Iran sebelum Revolusi 1979 menggulingkan sistem monarki. Lahir pada 31 Oktober 1960, ia dikenal oleh para pendukungnya sebagai Putra Mahkota Iran, meski kerajaan telah lama runtuh.

Sejak keluarganya terusir dari Iran, Pahlavi menetap di luar negeri—terutama di Amerika Serikat—dan secara konsisten menempatkan diri sebagai penentang Republik Islam Iran. Memasuki awal 2026, gaung dukungan terhadap dirinya kembali terdengar, baik dari komunitas diaspora Iran maupun sebagian masyarakat di dalam negeri.

Kebangkitan dukungan ini sejalan dengan memburuknya kondisi ekonomi Iran. Inflasi yang melonjak, nilai mata uang yang terus tertekan, serta pembatasan kebebasan sipil menjadi pemicu keresahan publik. Bagi sebagian warga, khususnya generasi muda yang tidak mengalami langsung era pra-revolusi, masa pemerintahan Shah dipersepsikan sebagai periode stabil dan modern—meski pandangan ini masih menuai pro dan kontra.

Reza Pahlavi dinilai memiliki modal kuat berupa pengenalan internasional dan jaringan global yang luas. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan tidak berambisi menghidupkan kembali monarki absolut. Sebaliknya, ia mendorong perubahan menuju sistem demokrasi sekuler melalui cara damai, pembangkangan sipil, serta referendum nasional untuk menentukan masa depan politik Iran.

Dalam beberapa bulan terakhir, intensitas seruan politik Pahlavi meningkat. Lewat pernyataan publik dan tayangan video, ia mengajak rakyat Iran melakukan aksi pemogokan nasional dan menyerukan aparat keamanan agar berpihak kepada masyarakat.

Ia bahkan secara terbuka meminta tekanan terhadap pemerintah terus diperbesar. “Saya mengajak rakyat Iran untuk melanjutkan aksi-aksi besar dan mengambil alih pusat-pusat kota,” ujarnya, seperti dikutip dari CNN, Senin, 12 Januari 2026.

Namun demikian, posisi Reza Pahlavi tidak sepenuhnya diterima tanpa kritik. Sejumlah kelompok kiri dan aktivis HAM mengingatkan kembali sisi represif rezim Shah di masa lalu, termasuk keberadaan polisi rahasia SAVAK. Mereka khawatir kembalinya figur Pahlavi justru berpotensi mengulang pola kekuasaan lama dengan kemasan yang berbeda.