JurnalPatroliNews – Jakarta – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dilaporkan tengah mematangkan rencana operasi darat strategis di wilayah pesisir Iran.
Fokus utama dari operasi ini adalah penguasaan Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak paling krusial bagi Teheran, serta pengamanan jalur logistik di Selat Hormuz.
Laporan Washington Post menyebutkan bahwa rencana ini bukanlah sebuah invasi skala penuh, melainkan operasi darat terbatas yang melibatkan unit pasukan khusus dan infanteri konvensional untuk serangan presisi.
Hingga kini, Presiden Donald Trump dilaporkan belum memberikan persetujuan final, namun mobilisasi aset tempur terus mengalir deras ke kawasan Teluk.
Mobilisasi Pasukan Besar-Besaran Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi kehadiran 3.500 personel militer di atas kapal serbu amfibi USS Tripoli. Kekuatan ini diperkuat dengan pengerahan ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS.
Total penambahan pasukan ini diprediksi mencapai lebih dari 5.000 personel baru, yang akan bergabung dengan 50.000 tentara AS yang sudah bersiaga di kawasan tersebut.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa pengerahan ini bertujuan memberikan “fleksibilitas maksimal” bagi strategi Gedung Putih.
Risiko Perang Gesekan Meski secara teknis militer AS memiliki keunggulan untuk merebut Pulau Kharg, para pengamat militer memperingatkan risiko terjebaknya pasukan dalam “perang gesekan” (war of attrition) yang panjang.
Operasi ini dikhawatirkan akan memakan biaya ekonomi yang masif serta mengancam nyawa ribuan tentara Amerika.
Respon Keras Teheran Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bereaksi keras terhadap laporan ini. Melalui kantor berita IRNA, ia menuding Washington menjalankan standar ganda dalam krisis ini.
“Musuh secara terbuka mengirimkan pesan negosiasi, tetapi secara diam-diam mereka merencanakan serangan darat,” tegas Ghalibaf, Minggu (29/3/2026).
Penumpukan pasukan ini menandakan bahwa meski jalur diplomasi diklaim masih terbuka, opsi militer darat kini berada pada tahap kesiapan tertinggi yang bisa mengubah peta konflik Timur Tengah secara permanen.










