Rahmat Tuhan
Pada kesempatan yang sama, Trump kembali mengenang upaya pembunuhan yang hampir merenggut nyawanya. Sebelumnya, ia menghadapi percobaan pembunuhan pada Sabtu, 13 Juli.
“Saya tidak seharusnya berada di sini malam ini,” kata Trump dengan wajah serius, dengan perban menutupi telinga kanannya, seperti dikutip CNBC International.
“Seperti yang Anda ketahui, peluru pembunuh itu hampir merenggut nyawa saya,” ujarnya.
“Saya berdiri di hadapan Anda dengan rahmat Tuhan yang mahakuasa,” tambah Trump.
Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa Tuhan adalah ‘senjata’ utamanya yang melindunginya dan dapat membantunya memenangkan pemilu mendatang.
“Darah mengalir di mana-mana, namun, dalam beberapa hal saya merasa sangat aman, karena Tuhan ada di pihak saya,” kata Trump, menambahkan bahwa pasukan pengamanan Secret Service-nya segera bertindak dan melindunginya.
“Hal yang menakjubkan adalah bahwa sebelum tembakan, jika saya tidak menggerakkan kepala saya pada saat-saat terakhir, peluru pembunuh itu akan mengenai sasarannya dengan sempurna, dan saya tidak akan bersama Anda malam ini,” katanya.














