JurnalPatroliNews – Jakarta -Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggelar dialog tingkat tinggi dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, pada Rabu (8/4). Pertemuan ini menjadi sorotan dunia karena salah satu poin utama yang dibahas adalah kemungkinan penarikan diri Amerika Serikat dari aliansi pertahanan Atlantik Utara tersebut.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Presiden Trump merasa kecewa dengan sikap para sekutu dalam enam pekan terakhir, terutama selama ketegangan bersenjata antara AS dan Iran berlangsung.
Menurut Leavitt, pihak Gedung Putih menilai NATO tidak memberikan dukungan yang sepadan meskipun warga Amerika telah membiayai sebagian besar belanja pertahanan aliansi selama ini.
“Cukup menyedihkan bagaimana NATO seolah membalikkan badan saat krisis, padahal Amerika telah membiayai pertahanan mereka. Hal ini pasti akan didiskusikan oleh Presiden bersama Sekjen Rutte,” ujar Leavitt sebagaimana dilansir AFP, Kamis (9/4).
Kekecewaan di Tengah Gencatan Senjata Pertemuan ini berlangsung hanya satu hari setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan.
Ketidaksenangan Trump dilaporkan berakar dari keengganan negara-negara anggota NATO untuk terlibat langsung dalam operasi militer terhadap Iran.
Sebelum pertemuan berlangsung, Trump melontarkan kritik tajam dengan menyebut NATO sebagai aliansi macan kertas. Ia bahkan menggunakan istilah sindiran dengan menyebut kapal induk milik Inggris hanya sebagai mainan, sebagai bentuk protes atas minimnya dukungan tempur dari sekutu dekatnya di Eropa.
Tantangan Konstitusional di Dalam Negeri Meski wacana penarikan diri ini terus digulirkan oleh eksekutif, langkah AS untuk keluar dari NATO tidaklah sederhana.
Berdasarkan regulasi domestik, Presiden Donald Trump membutuhkan persetujuan dari Kongres AS untuk membatalkan keanggotaan dalam perjanjian pertahanan internasional tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pertemuan antara Trump dan Mark Rutte masih menjadi perhatian diplomatik utama.
Para analis memprediksi bahwa dialog ini akan menentukan arah baru bagi stabilitas keamanan di wilayah transatlantik dan masa depan komitmen pertahanan bersama antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Eropanya.












