Trump Sebut Houthi Sepakat Tak Lawan AS, Serangan ke Saudi Makin Panas

JurnalPatroliNews | Washington — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kelompok Houthi di Yaman telah sepakat untuk tidak menyerang Amerika Serikat, meski kelompok yang bersekutu dengan Iran itu tengah meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi.

Pernyataan Trump muncul ketika konflik di Yaman kembali meningkat dan serangan Houthi mulai menyasar wilayah strategis Arab Saudi, termasuk ibu kota Riyadh.

Menurut laporan AFP pada Minggu (20/9/2026), pernyataan Trump disampaikan kepada wartawan Fox News Trey Yingst, yang dikenal sering berkomunikasi langsung dengan presiden AS.

Trump disebut mengatakan Washington masih menjalin komunikasi dengan Houthi dan kelompok tersebut telah menyatakan tidak akan berperang melawan Amerika Serikat.

Trump Sebut Komunikasi dengan Houthi Terus Berlangsung

Pernyataan terbaru Trump bukan kali pertama ia mengatakan bahwa Houthi tidak ingin berkonfrontasi langsung dengan AS.

Dalam pernyataan sebelumnya pada 12 September, Trump mengatakan Houthi telah menghubungi Washington dan tidak menginginkan perang dengan Amerika Serikat.

“Mereka tidak ingin kami menyerang mereka,” ujar Trump saat berada di Irlandia pada 12 September.

Namun, belum ada pengumuman publik mengenai perjanjian tertulis baru antara Washington dan Houthi yang secara independen mengonfirmasi klaim tersebut.

Laporan Reuters sebelumnya menyebut pejabat AS dan perwakilan Houthi telah melakukan pertemuan rahasia di Oman. Dalam pertemuan tersebut, pihak Houthi dilaporkan memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan menyerang kapal AS maupun Israel dan akan tetap berpegang pada kesepakatan gencatan senjata 2025. Oman menjadi mediator dalam komunikasi tersebut.

Houthi Justru Intensifkan Serangan ke Saudi

Di saat komunikasi dengan Washington disebut masih berlangsung, situasi antara Houthi dan Arab Saudi justru semakin panas.

Arab Saudi pada Sabtu (19/9) mengonfirmasi bahwa sebuah rudal balistik yang ditembakkan Houthi mengarah ke Riyadh.

Rudal tersebut berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam serangan tersebut.

Serangan itu menjadi salah satu perkembangan penting dalam eskalasi terbaru konflik Yaman. Houthi juga mengklaim melakukan sejumlah serangan lain terhadap sasaran di Arab Saudi, termasuk fasilitas energi, meski sebagian klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

AFP juga melaporkan adanya kebakaran di sebuah fasilitas penyimpanan bahan bakar dekat Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, setelah serangan rudal tersebut.

Saudi Minta Dukungan Menghadapi Houthi

Peningkatan serangan Houthi terjadi ketika pasukan kelompok tersebut memperluas penguasaan wilayah di Yaman.

Reuters melaporkan Houthi telah mengambil sejumlah wilayah strategis di sepanjang pesisir Laut Merah, termasuk kawasan dekat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan dan energi dunia.

Arab Saudi kemudian meminta dukungan dari sejumlah negara untuk menghadapi perkembangan tersebut.

Washington sejauh ini memberikan dukungan intelijen dan bantuan penargetan kepada Saudi, tetapi Trump belum menyetujui keterlibatan langsung militer AS dalam serangan terhadap Houthi.

Kondisi tersebut membuat posisi Washington menjadi lebih kompleks. Di satu sisi, AS tetap menjadi sekutu utama Arab Saudi. Di sisi lain, pemerintahan Trump masih membuka jalur komunikasi dengan Houthi untuk mencegah kelompok tersebut menyerang aset dan kapal Amerika.

Houthi Fokus Melawan Saudi

Sikap Houthi juga diperkuat oleh pernyataan pejabat senior kelompok tersebut.

Dalam wawancara dengan AP, pejabat senior Houthi Mohamed al-Bukhaiti mengatakan kelompoknya tidak berniat menyerang kapal-kapal AS, kecuali yang berkaitan dengan Saudi.

AP melaporkan bahwa komunikasi yang dimediasi Oman turut memperkuat pemahaman bahwa Houthi tidak akan menyerang kapal AS sebagai bagian dari pengaturan gencatan senjata sebelumnya.

Dengan demikian, terdapat perbedaan antara konflik Houthi dengan Saudi dan hubungan kelompok tersebut dengan Amerika Serikat.

Houthi saat ini memusatkan serangannya terhadap Saudi, sementara jalur komunikasi dengan Washington tetap dipertahankan.

Trump Disebut Sedang Menentukan Langkah terhadap Iran

Di tengah eskalasi tersebut, Trump juga dilaporkan sedang mempertimbangkan langkah berikutnya terkait Iran.

Menurut laporan yang dikutip AFP, Trump menyampaikan kepada Yingst bahwa keputusan penting terkait perkembangan kawasan Timur Tengah sedang berada dalam tahap pembahasan.

Pernyataan itu muncul ketika konflik yang melibatkan Iran, Israel dan Amerika Serikat masih menjadi sumber ketegangan utama di kawasan.

Reuters melaporkan Trump dijadwalkan menjalani rangkaian pertemuan dengan para pemimpin negara Teluk di New York dalam agenda Sidang Umum PBB. Isu Iran dan perkembangan keamanan kawasan menjadi salah satu topik penting dalam rangkaian pertemuan tersebut.

Jalur Diplomasi Houthi-AS Masih Terbuka

Perkembangan terbaru memperlihatkan dua jalur yang berjalan bersamaan.

Houthi terus melakukan tekanan militer terhadap Arab Saudi, sementara komunikasi dengan Amerika Serikat tetap berlangsung melalui jalur diplomatik.

Klaim Trump bahwa Houthi telah sepakat tidak menyerang AS juga sejalan dengan laporan mengenai komunikasi langsung maupun tidak langsung antara kedua pihak. Namun, detail kesepakatan dan mekanisme pelaksanaannya belum seluruhnya diumumkan secara terbuka.

Sementara itu, serangan terhadap Riyadh menunjukkan bahwa eskalasi konflik Yaman masih berlangsung dan berpotensi berdampak lebih luas terhadap keamanan kawasan serta jalur pelayaran internasional.

Perkembangan berikutnya akan bergantung pada bagaimana Washington merespons serangan Houthi terhadap Saudi, sekaligus mempertahankan komunikasi dengan kelompok tersebut untuk mencegah konflik meluas menjadi konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat.

Komentar