JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Australia meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan penyebaran virus Nipah yang kembali menjadi sorotan di kawasan Asia. Langkah ini dilakukan seiring diperketatnya pemeriksaan kesehatan penumpang di sejumlah bandara internasional di Asia menyusul kemunculan kasus terbaru virus mematikan tersebut.
Menteri Kesehatan Australia, Mark Butler, menegaskan bahwa otoritas kesehatan negaranya memantau situasi ini secara intensif. Menurutnya, pemerintah federal terus mengikuti dinamika penyebaran virus, terutama terkait kebijakan biosekuriti yang diterapkan negara-negara Asia terhadap pelancong lintas negara.
“Kami sudah memiliki prosedur yang jelas dan ketat dalam menangani pelancong yang datang dalam kondisi sakit, tanpa memandang dari negara mana mereka berasal,” ujar Butler, dikutip dari 9News, Sabtu, 31 Januari 2026.
Meski ancaman virus Nipah dinilai serius, Butler menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada kebutuhan untuk mengubah protokol kesehatan nasional Australia. Kendati demikian, evaluasi dilakukan secara rutin untuk memastikan sistem pencegahan tetap relevan dan efektif.
Pernyataan tersebut muncul setelah dilaporkan dua tenaga kesehatan di India terinfeksi virus Nipah pada Desember lalu. Kendati virus ini dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi, hampir 200 orang yang sempat melakukan kontak erat dengan kedua pasien tersebut dilaporkan tidak mengalami gejala.
Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1999 di Malaysia. Virus ini diketahui berasal dari kelelawar sebagai inang alami dan dapat menular ke hewan lain maupun manusia. Penularan pada manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau konsumsi makanan yang terkontaminasi, termasuk buah-buahan.
Butler menjelaskan bahwa penularan antarmanusia relatif jarang terjadi. Namun, dampaknya bisa sangat fatal apabila infeksi terjadi. “Risiko kematian akibat virus ini sangat tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen. Karena itu, kami tidak menganggapnya enteng,” tegasnya.
Virus Nipah tercatat pernah muncul di sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Bangladesh, dan Singapura. Jejak virus ini juga ditemukan pada populasi kelelawar di Indonesia, bahkan hingga wilayah Ghana di Afrika. Hingga kini, belum tersedia vaksin khusus untuk mencegah infeksi virus Nipah.
Sebagai langkah antisipasi, otoritas kesehatan Australia mengimbau warga yang bepergian ke wilayah dengan kasus Nipah untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga kebersihan, serta menghindari kontak langsung dengan hewan liar, khususnya kelelawar dan monyet.














