DTIIF 2026 Himpun 3.000 Peserta, Danantara Bidik Lompatan Teknologi Industri Nasional

JurnalPatroliNews | Jakarta – DTIIF 2026 menjadi momentum penguatan kolaborasi riset, teknologi, dan investasi untuk mendorong daya saing industri nasional. Forum yang digelar Danantara Indonesia tersebut mempertemukan lebih dari 3.000 peserta serta 274 pembicara dan moderator dari berbagai sektor, sekaligus menghasilkan sejumlah kesepakatan kemitraan strategis di bidang kesehatan, energi, infrastruktur digital, hingga kendaraan listrik.

Berlangsung selama tiga hari di Fairmont Jakarta, forum Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 mempertemukan unsur pemerintah, perusahaan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, penyedia teknologi, serta ekosistem badan usaha milik negara (BUMN).

Pertemuan lintas sektor ini diarahkan untuk memperkuat hubungan antara hasil penelitian dan kebutuhan industri. Dengan demikian, inovasi yang dikembangkan lembaga riset maupun perguruan tinggi memiliki peluang lebih besar untuk diterapkan, dikembangkan, dan dikomersialkan.

Sejumlah kerja sama yang diumumkan dalam forum tersebut mencakup berbagai sektor strategis. Mulai dari pengembangan teknologi kesehatan, energi terbarukan, pusat data, ekosistem kendaraan listrik, hingga industri berbasis teknologi masa depan.

Chief Technology Officer Danantara Indonesia sekaligus Ketua DTIIF 2026, Sigit Puji Santosa, menegaskan bahwa penandatanganan berbagai kesepakatan tersebut merupakan titik awal untuk membangun kolaborasi yang memberikan dampak bagi industri nasional.

Menurutnya, kerja sama antarlembaga perlu dilanjutkan dengan langkah konkret agar potensi riset dan inovasi tidak berhenti pada tahap pembahasan, melainkan dapat diterapkan untuk memperkuat kapasitas industri Indonesia.

Semangat Sumpah Pemuda dalam Kolaborasi Teknologi

Penutupan DTIIF 2026 pada Rabu (28/10/2026) bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Momentum tersebut dimaknai sebagai pengingat pentingnya persatuan dan kerja bersama dalam membangun masa depan bangsa.

Sigit mengaitkan semangat kolaborasi yang dibangun melalui forum tersebut dengan nilai persatuan yang telah diwariskan para pemuda Indonesia sejak 1928.

“Pada 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang berkumpul dengan semangat dan cita-cita bersama untuk membangun masa depan Indonesia. Hampir satu abad kemudian, semangat persatuan, kolaborasi, dan tekad tersebut tetap relevan,” jelas Sigit dalam sambutannya.

Ia menambahkan bahwa Danantara Indonesia berupaya meneruskan semangat tersebut dengan mempertemukan berbagai gagasan, keahlian, dan sumber daya untuk mendukung kemajuan Indonesia.

“Untuk itu, Danantara Indonesia ingin meneruskan semangat Sumpah Pemuda dengan mempertemukan berbagai gagasan, keahlian, dan sumber daya untuk bersama-sama mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih maju,” imbuhnya.

Danantara Perkuat Jembatan antara Riset dan Industri

Salah satu agenda penting DTIIF 2026 adalah membangun keterhubungan yang lebih kuat antara kegiatan penelitian, pengembangan talenta, kebutuhan industri, pendanaan, dan investasi.

Upaya tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara Danantara Indonesia, Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Perindustrian, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kerja sama lintas lembaga itu diarahkan untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset, mendorong hilirisasi teknologi, serta memperkuat kemampuan industri dalam menghasilkan produk bernilai tambah.

Danantara Indonesia juga menjalin MoU dengan BRIN dan 32 perguruan tinggi untuk membangun platform kemitraan riset, akademik, dan industri.

Kolaborasi tersebut diharapkan membuka ruang lebih luas bagi peneliti dan kalangan akademisi untuk mengembangkan hasil penelitian yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha. Di sisi lain, industri memperoleh kesempatan mengakses inovasi serta sumber daya pengetahuan dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Di sektor kesehatan, Danantara Development Management Fund (DDMF) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), Indofarma, dan PT EBM Saintifik dan Teknologi menyepakati pengembangan fitofarmaka berbasis kratom.

DDMF juga menjajaki kerja sama dengan Thermo Fisher Scientific untuk pengembangan teknologi ilmu hayati. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan riset dan industri kesehatan nasional.

Energi Terbarukan hingga Kendaraan Listrik Jadi Sasaran

Selain bidang kesehatan dan penelitian, DTIIF 2026 menghasilkan sejumlah agenda kolaborasi yang berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur dan pengembangan industri masa depan.

Di sektor infrastruktur digital, Telkom Indonesia dan PLN menjalin kerja sama untuk menyelaraskan rencana pengembangan pusat data atau data center dengan kesiapan pasokan listrik.

Sinkronisasi tersebut menjadi penting karena peningkatan kapasitas pusat data membutuhkan dukungan energi yang memadai. Ketersediaan listrik dan kesiapan infrastruktur menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan ekosistem digital.

Pada sektor kendaraan listrik, LEN, PLN, dan Pertamina Patra Niaga memperkuat kolaborasi untuk mendukung pengembangan ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas).

Kerja sama tersebut mencakup aspek infrastruktur, energi, dan penerapan kendaraan listrik sebagai bagian dari pengembangan industri transportasi berbasis teknologi.

Sementara itu, di bidang energi terbarukan, Pertamina New & Renewable Energy dan Agrinas Palma menandatangani Heads of Agreement untuk rencana pembangunan serta pengoperasian fasilitas produksi biodiesel atau fatty acid methyl ester (FAME) di Indragiri Hilir, Riau.

Rencana tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas hilir bahan bakar nabati sekaligus mendukung agenda ketahanan energi nasional.

Berbagai kerja sama lainnya juga menyentuh industri maritim dan baja, keamanan siber, post-quantum cryptography, bioteknologi, serta robotika. Cakupan tersebut menunjukkan luasnya bidang yang menjadi perhatian dalam pengembangan teknologi industri nasional.

Dua Peraih Nobel Ekonomi Hadir di DTIIF 2026

Selama penyelenggaraan tiga hari, DTIIF 2026 menghadirkan 274 pembicara dan moderator melalui tujuh sesi Distinguished Lecture, 21 sesi pleno, serta 38 sesi panel.

Forum ini juga menyediakan kegiatan pitching dan showcase yang mempertemukan BUMN, peneliti muda, serta perusahaan rintisan berbasis teknologi.

Dua peraih Nobel Ekonomi, Peter Howitt dan Thomas J. Sargent, turut hadir untuk membahas pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi dan peran kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) sebagai akselerator.

Pembahasan forum mencakup enam sektor strategis, yakni energi; telekomunikasi dan infrastruktur digital; pertanian, pangan, dan kesehatan; material maju dan semikonduktor; keuangan dan perbankan; serta transportasi dan infrastruktur.

Seluruh rangkaian kegiatan dirancang melalui tiga tahapan, yaitu Imagine, Advance, dan Build.

Tahap Imagine diarahkan untuk mengeksplorasi perkembangan teknologi masa depan. Advance berfokus pada penguatan kemampuan dan pengembangan teknologi, sedangkan Build menitikberatkan pada penerapan inovasi untuk membangun industri yang berkelanjutan.

“Ketiga tahap ini, dari frontier teknologi, kemajuan teknologi, sampai industri yang berkelanjutan, menjadi topik, tujuan, sekaligus fokus kami di Danantara,” ujar Sigit.

Implementasi Kerja Sama Menjadi Tantangan Berikutnya

Berakhirnya DTIIF 2026 bukan menjadi titik akhir dari agenda kolaborasi yang telah dibangun. Tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai kesepakatan yang telah ditandatangani dapat ditindaklanjuti menjadi program nyata.

Danantara Indonesia menyatakan akan mengawal keberlanjutan kerja sama tersebut agar peluang kolaborasi dapat diterjemahkan menjadi pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas industri, dan penciptaan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Agenda kemitraan itu juga direncanakan berlanjut melalui penyelenggaraan New Asia Forum (NAF) perdana pada 3–4 Desember 2026 di Bali. Forum tersebut diharapkan memperluas pembahasan kemitraan dan investasi Danantara Indonesia dalam lingkup kawasan Asia.

Melalui DTIIF 2026, upaya mempertemukan dunia penelitian, perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku industri mendapatkan ruang kolaborasi yang lebih luas.

Namun, ukuran keberhasilan forum tersebut pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah peserta maupun banyaknya dokumen kerja sama yang ditandatangani. Implementasi, keberlanjutan investasi, dan manfaat nyata bagi industri nasional akan menjadi tolok ukur penting dari seluruh kemitraan yang telah dibangun.

Komentar