JurnalPatroliNews | Yogyakarta – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan dengan terjadinya guguran awan panas pada Sabtu (4/7/2026) dini hari. Material panas meluncur sejauh sekitar 1,7 kilometer ke arah barat daya, mengikuti alur hulu Kali Boyong dan Kali Krasak.
Informasi tersebut disampaikan Badan Geologi melalui unggahan resminya yang mencatat guguran awan panas terjadi pada pukul 03.51 WIB.
Berdasarkan hasil pemantauan, guguran awan panas memiliki estimasi jarak luncur sekitar 1.700 meter, dengan amplitudo maksimum 32,01 milimeter dan durasi mencapai 177,78 detik.
“Pada pukul 03.51 WIB terjadi guguran awan panas dengan estimasi jarak luncur 1.700 meter, amplitudo maksimal 32,01 mm dan durasi 177,78 detik mengarah ke barat daya, yakni hulu Kali Boyong dan Kali Krasak,” demikian keterangan Badan Geologi.
Rekaman visual yang diunggah memperlihatkan pijaran material vulkanik keluar dari kawah Gunung Merapi dan meluncur menuruni lereng. Batu-batu pijar tampak menyebar mengikuti jalur aliran guguran menuju kawasan lereng barat daya.
Seiring meningkatnya aktivitas tersebut, Badan Geologi kembali mengingatkan masyarakat agar tidak memasuki kawasan rawan bencana maupun alur sungai yang berhulu langsung di Gunung Merapi.
“Masyarakat diimbau menjauhi daerah bahaya serta alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi dan selalu mematuhi rekomendasi resmi dari otoritas berwenang,” tulis Badan Geologi.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). Dengan status tersebut, aktivitas pendakian menuju puncak Gunung Merapi masih ditutup demi keselamatan masyarakat dan wisatawan.
Otoritas vulkanologi terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan aktivitas Merapi mengingat potensi guguran lava maupun awan panas masih dapat terjadi sewaktu-waktu sesuai dinamika aktivitas gunung api tersebut.















Komentar