JurnalPatroliNews – Jakarta – Proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2A, khususnya pada paket kontrak 202 (CP202), dirancang dengan standar perlindungan tinggi terhadap banjir ekstrem dan gempa besar.
Seluruh stasiun dan terowongan pada paket ini telah mengikuti ketentuan mitigasi bencana terbaru, termasuk antisipasi skenario banjir 200 tahunan serta penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) gempa yang lebih ketat.
Project Management of Construction (PMC) 1 MRT Jakarta, Sony Desta Primamdani, menjelaskan bahwa desain CP202 tidak hanya disesuaikan dengan ruang terbatas di kawasan padat, tetapi juga mengutamakan keamanan jangka panjang.
Ia menuturkan bahwa seluruh akses masuk atau entrance stasiun dibuat lebih tinggi dari permukaan jalan agar tidak mudah dimasuki air saat terjadi banjir ekstrem.
“Kami memperhitungkan banjir 200 tahunan. Entrance dibuat tidak selevel tanah, tapi ada peninggian,” kata Sony saat ditemui di proyek Stasiun MRT Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (27/11/2025).
Untuk mengantisipasi banjir yang lebih parah, paket CP202 juga dilengkapi dengan penghalang air khusus. “Kami mem-provide flood barrier sebagai antisipasi jika level air melebihi entrance,” tambahnya.
Sony menambahkan bahwa desain struktur CP202, mulai dari dinding stasiun, kolom, hingga sambungan terowongan, telah mengikuti SNI terbaru yang mewajibkan perhitungan beban gempa lebih tinggi dibanding standar sebelumnya. “Untuk desain gempa, kami mengikuti SNI terbaru yang koefisien bebannya semakin tinggi,” ujarnya.
CP202 merupakan salah satu paket paling kompleks dalam pengembangan MRT Fase 2A. Pembangunan Fase 2A terdiri atas tiga paket pekerjaan: CP201 (Bundaran HI–Thamrin–Monas), CP202 (Harmoni–Sawah Besar), dan CP203 (Glodok–Kota).
CP202 mulai dikerjakan sejak 2022 dan kini memasuki tahun ketiga konstruksi. Dua mesin bor tunnel terus bekerja dari arah Stasiun Sawah Besar menuju Stasiun Mangga Besar.
Keunikan CP202 terletak pada desain terowongannya yang dibuat bertingkat atau stacked tunnel. Berbeda dengan jalur MRT Senayan–Harmoni yang dibangun sejajar kiri dan kanan, desain bertingkat ini diterapkan karena keterbatasan ruang di Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, serta kedekatannya dengan kanal dan bangunan tua. Sony menjelaskan bahwa perubahan posisi tunnel mulai terjadi setelah melewati Stasiun Harmoni.
“Untuk masuk area Harmoni itu masih kiri–kanan, karena di situ lebar Jalan Gajah Mada cukup lebar, sehingga kita bisa desain kiri–kanan. Ketika masuk ke Jalan Gajah Mada atau area Sawah Besar, ini space jalan mengecil,” katanya.
Setibanya di Sawah Besar, jalur MRT harus menyesuaikan kondisi lingkungan yang dipenuhi bangunan lama bertingkat dan struktur tanah yang sangat padat. Kedekatan jalur dengan kanal juga mempersempit ruang yang dapat digali.
“Sehingga di sini sebelah kita kali, sebelah kita gedung, kita bangun stasiun di bawah Jalan Gajah Mada, sehingga desain yang kita susun itu adalah desain bertingkat,” lanjutnya.
Karena itu, Stasiun Sawah Besar dan Mangga Besar dirancang hingga kedalaman 28 meter dan terdiri dari empat lantai, yaitu concourse, peron jalur selatan menuju Lebak Bulus, concourse kedua, dan peron jalur utara menuju Stasiun Kota.














