JurnalPatroliNews – Jakarta – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akhirnya buka suara dan memberikan komentar resmi terkait aksi penangkapan massal terhadap rombongan aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF).
Rombongan relawan internasional tersebut sebelumnya dicegat secara paksa oleh militer Israel di wilayah perairan internasional pada Senin (18/5) sewaktu berlayar membawa misi bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza, Palestina.
Melalui pernyataan resminya, Netanyahu melayangkan tudingan miring dengan melabeli para aktivis kemanusiaan tersebut sebagai kelompok provokator.
Netanyahu menegaskan pandangan politiknya bahwa pihak Israel mengantongi hak penuh untuk menangkap armada flotilla yang dinilainya provokatif tersebut.
Ia juga menuduh para relawan sebagai pendukung kelompok Hamas yang mencoba menembus perimeter perairan teritorial untuk mencapai wilayah Gaza. Pernyataan kontroversial tersebut disiarkan langsung melalui akun media sosial X resmi milik Perdana Menteri Israel, @IsraeliPM, pada Rabu (20/5).
Lebih lanjut, pemimpin pemerintahan Israel itu memastikan tidak akan menahan para relawan dalam jangka waktu panjang di fasilitas mereka, melainkan akan menempuh jalur pengusiran.
Netanyahu menyatakan bahwa dirinya telah mengeluarkan perintah langsung kepada jajaran kementerian dan otoritas terkait di internal negaranya untuk segera melaksanakan proses deportasi terhadap para aktivis tersebut.
Ia menegaskan telah menginstruksikan seluruh otoritas berkompeten di Israel untuk segera memulangkan dan mendeportasi para provokator tersebut tanpa penundaan.
Daftar Lengkap Sembilan Warga Negara Indonesia yang Ditahan Aksi intersepsi sepihak yang dilancarkan oleh armada tempur militer Israel terhadap kapal-kapal kemanusiaan yang tergabung dalam proyek Global Sumud Flotilla 2.0 ini memang memicu perhatian besar, khususnya di tanah air.
Hal ini dikarenakan di dalam manifes penumpang kapal-kapal yang disergap tersebut, terkonfirmasi ada 9 Warga Negara Indonesia (WNI) yang ikut ditangkap dan ditawan.
Guna memberikan transparansi informasi, lembaga Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) merilis data manifes resmi mengenai identitas lengkap kesembilan warga negara Indonesia beserta titik kapal yang mereka tumpangi saat penyergapan terjadi:
- Thoudy Badai, bertugas sebagai Jurnalis dari media Republika, berada di dalam manifes Kapal Ozgurluk.
- Rahendro Herubowo, berstatus sebagai relawan sipil. Terkait statusnya, Pemimpin Redaksi iNews Aiman Witjaksono memberikan klarifikasi resmi bahwa Rahendro tercatat telah mengajukan pengunduran diri atau resign dari institusi iNews sejak Agustus 2022 silam. Ia berada di dalam rombongan Kapal Ozgurluk.
- Bambang Noroyono, bertugas aktif sebagai Jurnalis dari media Republika, berada di dalam manifes Kapal Boralize.
- Andre Prasetyo Nugroho, bertugas menjalankan mandat profesi sebagai Jurnalis dari media TV Tempo, berada di dalam manifes Kapal Ozgurluk.
- Andi Angga, bergerak dalam kapasitasnya sebagai Aktivis kemanusiaan, berada di dalam manifes Kapal Josef.
- Herman Budiyanto Sudarsono, bergerak dalam kapasitasnya sebagai Aktivis kemanusiaan, berada di dalam manifes Kapal Zafiro.
- Ronggo Wirasano, bergerak dalam kapasitasnya sebagai Aktivis kemanusiaan, berada di dalam manifes Kapal Zafiro.
- Asad Aras Muhammad, merupakan perwakilan delegasi dari lembaga Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), berada di dalam manifes Kapal Kasr-1.
- Hendro Prasetyo, merupakan perwakilan delegasi dari lembaga Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), berada di dalam manifes Kapal Kasr-1.
Hingga naskah ini diturunkan, jajaran Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersama sejumlah negara dunia ketiga dikabarkan terus memantau dari dekat realisasi dari instruksi deportasi Netanyahu ini, guna memastikan hak-hak hukum dan keselamatan fisik seluruh WNI tersebut terlindungi hingga tiba di tanah air.














