JurnalPatroliNews – Jakarta – Setelah melewati masa-masa penahanan yang penuh intimidasi oleh pihak militer asing, sekelompok relawan kemanusiaan asal Indonesia akhirnya berhasil dipulangkan ke pangkuan Ibu Pertiwi
Sembilan WNI yang sempat ditahan Israel saat bergabung dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) secara resmi mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu (24/5) sekitar pukul 16.20 WIB
Kedatangan rombongan relawan yang terdiri atas barisan jurnalis, aktivis, serta perwakilan lembaga kemanusiaan ini langsung disambut haru oleh Menteri Luar Negeri RI Sugiono bersama sejumlah lapisan masyarakat
Menlu Sugiono memberikan salam selamat datang sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia untuk memberikan pendampingan penuh, khususnya bagi peserta yang menerima tindakan kekerasan fisik selama masa interogasi
Keberhasilan agenda evakuasi internasional ini disebut sebagai buah dari hasil kerja keras diplomasi intensif yang digerakkan secara berlapis oleh Direktorat Pelindungan WNI Kemnaker melalui lima kantor perwakilan RI strategis
Pemerintah juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Turki yang telah memfasilitasi proses pembebasan serta menyediakan tiga unit armada pesawat evakuasi menuju Istanbul
Di samping itu, Kemlu RI kembali melayangkan kecaman keras atas tindakan pencegatan kapal di perairan internasional oleh militer Israel yang dinilai melanggar hukum humaniter internasional
Kisah Kelam Penyiksaan Fisik di Dalam Tahanan Militer Israel
Di balik kebahagiaan bisa kembali berkumpul dengan keluarga, salah satu komponen relawan menyimpan trauma mendalam terkait perlakuan kejam yang mereka terima selama berada di dalam sel tahanan
Pengendara duka tersebut dibeberkan oleh Rahendro Herubowo, salah satu penumpang Kapal Ozgurluk, yang menceritakan bahwa tindakan kasar sudah dilayangkan oleh tentara Israel sejak awal proses penangkapan di laut pada Senin (18/5) lalu
Para relawan dipaksa dalam posisi ditelungkupkan di atas geladak lalu disiram air hingga pakaian mereka basah kuyup
Kondisi penyiksaan dilaporkan semakin menjadi-jadi saat para peserta mulai digeser menuju ke dalam ruang administrasi transisi pertama
Herubowo mengaku kepalanya dipukul berulang kali, bagian tubuh depan serta belakangnya dihantam, bahkan dirinya sempat diinjak-injak saat posisi terjatuh ke lantai
Tindakan tidak manusiawi tersebut mencapai puncaknya ketika petugas militer nekat menyetrum tubuhnya hingga membuat korban berteriak kencang sebelum akhirnya dilepaskan
Pasca-tiba di Jakarta, seluruh korban kekerasan dijadwalkan akan segera menjalani serangkaian proses pemeriksaan kesehatan (medical check-up) lanjutan di rumah sakit demi memulihkan kondisi fisik mereka














