JurnalPatroliNews | Jakarta – Gangguan penglihatan menjadi persoalan kesehatan global yang diperkirakan semakin besar dalam beberapa dekade mendatang. Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), dr. Budu, menyampaikan bahwa sekitar 1,1 miliar orang di dunia mengalami kehilangan penglihatan yang berkaitan dengan keterbatasan akses layanan kesehatan mata.
Jika tidak diikuti peningkatan pencegahan dan penanganan, jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 1,7 miliar orang pada 2050.
Peringatan itu disampaikan Budu dalam media briefing Hari Penglihatan Sedunia 2026 di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026).
“Secara global, saat ini ada 1,1 miliar orang menderita gangguan penglihatan, dan jika dibiarkan, pada 2050 akan mencapai 1,7 miliar orang,” jelas Budu.
Data tersebut sejalan dengan estimasi International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB), yang menyoroti besarnya kebutuhan layanan kesehatan mata dan risiko meningkatnya kehilangan penglihatan akibat pertumbuhan serta penuaan populasi.
Menurut Budu, tantangan itu perlu direspons melalui deteksi dini, pemeriksaan berkala, serta akses terhadap penanganan yang tepat. Sebab, persoalan penglihatan tidak hanya memengaruhi kemampuan seseorang melihat, tetapi juga dapat berdampak pada pendidikan, produktivitas, keselamatan, dan kualitas hidup.
Sekitar 90 Persen Bisa Dicegah atau Ditangani
Budu menegaskan bahwa banyak kasus kehilangan penglihatan sebenarnya dapat dicegah atau ditangani apabila ditemukan lebih awal dan mendapatkan layanan medis yang sesuai.
Gangguan akibat kelainan refraksi, misalnya, dapat dikoreksi dengan kacamata sesuai hasil pemeriksaan. Sementara itu, katarak dapat ditangani melalui operasi apabila pasien memenuhi indikasi medis.
Karena itu, perluasan akses pemeriksaan mata dan tindak lanjut setelah skrining menjadi bagian penting dalam mengurangi beban gangguan penglihatan.
“Gangguan penglihatan bukan sekadar masalah mata, tapi merambat ke masalah ekonomi, masa depan anak, dan bahkan hilangnya nyawa,” paparnya.
Budu juga menyoroti hubungan antara gangguan kesehatan mata dan keselamatan. Dalam paparannya, ia menyebut risiko kecelakaan terkait gangguan penglihatan dapat meningkat hingga 2,6 kali lebih tinggi.
Dampak terhadap anak juga menjadi perhatian karena gangguan penglihatan yang tidak terdeteksi dapat menghambat proses belajar, mengurangi kenyamanan membaca, dan memengaruhi partisipasi dalam kegiatan pendidikan.
Kelompok Rentan Perlu Mendapat Perhatian
Berdasarkan data global yang dipaparkan Budu, beban kehilangan penglihatan tidak tersebar secara merata di seluruh kelompok masyarakat.
Lebih dari 90 persen orang yang mengalami kehilangan penglihatan berada di negara berpendapatan rendah dan menengah. Sekitar 73 persen berusia di atas 50 tahun, sedangkan 55 persen merupakan perempuan.
Data tersebut menunjukkan bahwa akses layanan kesehatan mata masih menjadi persoalan penting, terutama bagi kelompok yang menghadapi hambatan ekonomi, geografis, maupun keterbatasan fasilitas kesehatan.
Pada kelompok usia lanjut, perubahan fungsi penglihatan dan penyakit mata yang berkaitan dengan penuaan membutuhkan perhatian lebih besar. Pemeriksaan yang terlambat dapat membuat seseorang baru mendapatkan penanganan ketika gangguan sudah menghambat aktivitas sehari-hari.
Perempuan juga perlu memperoleh akses pemeriksaan dan pengobatan yang setara. Perbedaan akses layanan dapat memperbesar ketimpangan dalam pencegahan dan penanganan gangguan penglihatan.
Katarak Jadi Penyebab Utama Kebutaan pada Usia di Atas 50 Tahun
Di Indonesia, katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun.
Budu menyebut sekitar 81,2 persen kasus kebutaan pada kelompok usia tersebut disebabkan oleh katarak. Kondisi ini menjadi perhatian karena katarak pada umumnya dapat ditangani melalui operasi, sehingga akses terhadap pemeriksaan dan tindakan medis menjadi faktor penting dalam mencegah kebutaan yang sebenarnya dapat ditangani.
Selain katarak, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi juga menjadi penyebab utama gangguan penglihatan. Penggunaan kacamata sesuai hasil pemeriksaan dapat membantu mengatasi masalah tersebut.
“Kelainan refraksi dan katarak mendominasi, dan penanganannya sebetulnya bisa menyelesaikan 90 persen persoalan,” terangnya.
Meski demikian, angka tersebut perlu dipahami dalam konteks masalah kehilangan penglihatan yang dapat dicegah atau ditangani, bukan berarti seluruh jenis penyakit mata dapat diselesaikan dengan kacamata atau operasi katarak. Penyakit seperti glaukoma dan retinopati diabetik juga memerlukan pemeriksaan serta penanganan khusus.
Jutaan Peserta Pemeriksaan Gratis Ditemukan Mengalami Gangguan Mata
Tantangan kesehatan mata di Indonesia juga terlihat dari hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Data yang disampaikan PERDAMI pada 13 Oktober 2026 menunjukkan sekitar 2,95 juta orang dari 23,35 juta peserta CKG selama 2025–2026 mengalami gangguan mata. Jumlah tersebut mendekati 10 persen dari peserta yang telah diperiksa.
Banyak orang belum menyadari adanya gangguan penglihatan dan baru mencari pertolongan setelah keluhan semakin mengganggu. Situasi ini memperlihatkan pentingnya memastikan hasil skrining ditindaklanjuti dengan pemeriksaan dan pelayanan sesuai kebutuhan pasien.
Skrining menjadi langkah awal untuk mengenali kemungkinan gangguan. Namun, hasil skrining bukan pengganti diagnosis dokter dan perlu diikuti pemeriksaan lebih lanjut apabila ditemukan indikasi masalah kesehatan mata.
Ketersediaan tenaga kesehatan, fasilitas pemeriksaan, layanan operasi katarak, dan akses kacamata yang terjangkau menjadi unsur penting agar deteksi dini benar-benar menghasilkan perbaikan kesehatan masyarakat.
Angka Harapan Hidup Meningkat, Kebutuhan Layanan Mata Bertambah
Budu mengingatkan bahwa peningkatan angka harapan hidup perlu diikuti kesiapan sistem kesehatan menghadapi penyakit yang lebih banyak ditemukan pada usia lanjut.
Ia menyinggung target peningkatan angka harapan hidup Indonesia dari sekitar 70 menjadi 76 tahun. Menurutnya, bertambahnya jumlah penduduk yang hidup lebih lama juga berpotensi meningkatkan kebutuhan pemeriksaan dan penanganan penyakit mata, termasuk katarak.
“Pemerintah bahkan menargetkan angka harapan hidup naik dari 70 menjadi 76 tahun, yang berarti potensi kasus katarak akan semakin banyak dan menuntut kesiapan kita,” jelasnya.
Karena itu, upaya peningkatan kesehatan mata tidak cukup dilakukan melalui pemeriksaan saat keluhan muncul. Sistem kesehatan perlu mendorong layanan yang terintegrasi, mulai dari edukasi, skrining, diagnosis, pengobatan, hingga tindak lanjut.
Pelayanan yang mudah dijangkau dan terjangkau juga penting agar masyarakat tidak menunda penanganan karena keterbatasan biaya maupun akses geografis.
Jangan Menunggu Penglihatan Memburuk
Menutup paparannya, Budu mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan mata dan tidak menunggu sampai penglihatan terganggu untuk mencari pertolongan.
Ia mendorong masyarakat mengenali gejala, menjalani skrining, dan segera menindaklanjuti hasil pemeriksaan apabila ditemukan gangguan.
“Jangan tunggu mata bermasalah, kenali gejalanya, skrining, dan segera tindak lanjuti,” tegasnya.
Masyarakat perlu mewaspadai tanda seperti penglihatan kabur, perubahan ketajaman penglihatan, kesulitan melihat pada kondisi tertentu, atau gangguan yang muncul secara mendadak. Keluhan yang mendadak atau disertai nyeri mata berat memerlukan pemeriksaan medis segera.
Pemeriksaan berkala juga penting bagi kelompok berisiko, termasuk orang berusia lanjut dan penyandang diabetes, karena sejumlah penyakit mata dapat berkembang tanpa gejala awal yang jelas.
Melalui peningkatan kesadaran, deteksi dini, dan akses pelayanan yang lebih baik, kehilangan penglihatan yang dapat dicegah atau ditangani diharapkan bisa ditekan. Upaya tersebut bukan hanya menjaga fungsi penglihatan, tetapi juga mendukung kemandirian, keselamatan, pendidikan, serta produktivitas masyarakat.















Komentar