JurnalPatroliNews | Riyadh — Eskalasi konflik Yaman kembali merembet ke wilayah Arab Saudi. Dua bandara internasional di kerajaan tersebut, yakni Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan Bandara Internasional Abha, menjadi sasaran serangan pada Selasa dan Rabu, 6–7 Oktober 2026.
Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa. Otoritas penerbangan sipil Saudi melaporkan tiga orang tewas dan 36 lainnya mengalami luka-luka.
Dua korban tewas dalam serangan di Bandara Abha, sementara satu korban lainnya meninggal dunia akibat serangan di Bandara King Khalid, Riyadh. Otoritas Saudi menyatakan serangan menyebabkan kerusakan pada fasilitas bandara.
Kelompok Houthi yang menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan tersebut.
Riyadh Jadi Sasaran Rudal Balistik
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya meluncurkan rudal balistik ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Houthi menyatakan serangan tersebut mengganggu aktivitas penerbangan di ibu kota Saudi.
Namun, klaim tersebut datang bersamaan dengan pernyataan dari koalisi pimpinan Saudi yang menyebut rudal yang mengarah ke Riyadh berhasil dicegat.
Perbedaan klaim tersebut menunjukkan tingginya eskalasi perang informasi yang berlangsung bersamaan dengan pertempuran di lapangan.
Yang pasti, otoritas Saudi mengonfirmasi adanya serangan terhadap fasilitas Bandara King Khalid dan jatuhnya korban.
Tiga Korban Tewas, Puluhan Terluka
Menurut otoritas penerbangan sipil Saudi, serangan terhadap Bandara Abha menewaskan dua warga negara asing dan menyebabkan puluhan orang mengalami luka.
Sementara di Bandara King Khalid, satu orang tewas dan sejumlah lainnya terluka.
Laporan terbaru menyebut total korban mencapai tiga orang meninggal dunia dan 36 orang terluka.
Korban yang terluka kemudian mendapatkan penanganan medis.
Serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil ini menjadi perhatian karena bandara merupakan infrastruktur penting yang digunakan masyarakat umum dan memiliki fungsi vital bagi mobilitas serta konektivitas regional.
Houthi Juga Klaim Serang Aden
Dalam perkembangan lain, Houthi juga mengklaim melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional Aden di Yaman.
Serangan tersebut dilakukan menggunakan rudal dan drone, menurut laporan yang dikutip sejumlah media.
Salah satu proyektil dilaporkan jatuh di sekitar landasan pacu ketika sebuah pesawat dari Kairo dijadwalkan tiba.
Pesawat tersebut kemudian dialihkan menuju Jeddah.
Reuters melaporkan serangan ke Aden terjadi ketika konflik antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi semakin meningkat.
Saudi Siapkan Serangan Balasan
Serangan terhadap dua bandara Saudi langsung mendapat respons militer.
Koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah menghancurkan platform peluncur rudal balistik yang digunakan dalam serangan ke Riyadh.
Dalam perkembangan berikutnya, koalisi mengklaim menghancurkan 82 target militer Houthi di sejumlah wilayah Yaman.
Target yang disebut antara lain fasilitas penyimpanan rudal balistik, pusat komando dan kendali, sistem komunikasi, depot senjata serta lokasi berkumpulnya pasukan Houthi.
Serangan balasan tersebut menandai peningkatan signifikan dalam konfrontasi militer antara kedua pihak.
Konflik Yaman Memasuki Babak Baru
Eskalasi terbaru tidak berdiri sendiri.
Pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi kembali meningkat setelah periode relatif tenang selama beberapa tahun.
Pasukan pemerintah Yaman melancarkan operasi untuk merebut kembali wilayah strategis di sepanjang pesisir Laut Merah, termasuk kawasan yang memiliki kedekatan dengan Selat Bab el-Mandeb.
Wilayah tersebut memiliki arti strategis karena menjadi salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Reuters melaporkan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi telah meningkatkan operasi untuk merebut wilayah yang sebelumnya dikuasai Houthi.
Taiz Kembali Memanas
Pertempuran juga berlangsung di sekitar Taiz.
Laporan mengenai serangan rudal Houthi ke wilayah yang dikuasai pasukan pemerintah menyebut sedikitnya lima warga sipil terluka.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa eskalasi tidak hanya menyasar infrastruktur strategis, tetapi juga kembali meningkatkan risiko terhadap masyarakat sipil.
Konflik yang kembali membesar juga menambah tekanan kemanusiaan di Yaman.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan lebih dari 200 ribu orang telah mengungsi akibat eskalasi terbaru.
Ancaman Meluas ke Infrastruktur Sipil
Serangan terhadap bandara Saudi memperlihatkan bagaimana medan konflik Yaman semakin melebar.
Infrastruktur sipil, fasilitas energi, bandara dan jalur pelayaran menjadi bagian dari risiko keamanan yang muncul akibat eskalasi militer.
Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama karena Bab el-Mandeb merupakan jalur penting bagi perdagangan dan energi internasional.
Saudi sendiri menghadapi tekanan untuk melindungi wilayahnya sekaligus mendukung pemerintah Yaman dalam upaya merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.
Di sisi lain, Houthi tetap menunjukkan kemampuan untuk melancarkan serangan jarak jauh ke wilayah Saudi.
Eskalasi Belum Menunjukkan Tanda Mereda
Serangan ke Bandara King Khalid dan Bandara Abha menjadi salah satu perkembangan paling serius dalam eskalasi terbaru.
Tiga korban tewas dan 36 orang terluka menjadi bukti langsung dampak konflik terhadap fasilitas yang digunakan masyarakat sipil.
Di tengah meningkatnya operasi militer Saudi dan pasukan pemerintah Yaman, Houthi masih mempertahankan kemampuan melakukan serangan terhadap sasaran di wilayah Saudi.
Situasi tersebut membuat konflik Yaman kembali menjadi salah satu titik panas utama di kawasan Timur Tengah.
Pertanyaannya kini bukan hanya seberapa jauh kedua pihak mampu memperluas wilayah operasi, tetapi juga sampai kapan eskalasi tersebut akan berlangsung dan seberapa besar dampaknya terhadap warga sipil, penerbangan serta jalur perdagangan internasional.
Untuk saat ini, respons militer Saudi menunjukkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Sementara Houthi tetap mengklaim memiliki kemampuan untuk menyerang sasaran strategis di wilayah Saudi.
Konflik pun memasuki fase baru yang berpotensi memperluas dampaknya jauh melampaui medan perang Yaman.















Komentar