JurnalPatroliNews | Jakarta – Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (9/10/2026). Berdasarkan data Bloomberg dalam materi yang dihimpun, rupiah berada di level Rp17.898 per dolar AS, naik 17 poin atau sekitar 0,09 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Penguatan tersebut berlangsung ketika pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Kedua faktor itu dinilai berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang serta sentimen investor di pasar keuangan global.
Pengamat mata uang dan pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu perhatian utama pasar karena berisiko mengganggu pasokan energi dunia, terutama minyak mentah.
Ketegangan yang melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, disebut menambah kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dan keamanan jalur pelayaran strategis.
Dalam laporan yang menjadi dasar analisisnya, serangan terhadap fasilitas minyak di Riyadh pada awal pekan turut menjadi perhatian. Namun, dampak perkembangan tersebut terhadap pasokan energi dan pergerakan rupiah tetap bergantung pada eskalasi konflik serta respons pasar.
Selat Hormuz Jadi Perhatian Pasar Energi
Selain perkembangan konflik, keamanan jalur pelayaran di kawasan Teluk dan Selat Hormuz kembali menjadi sorotan. Jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan minyak dunia sehingga gangguan terhadap aktivitas pelayaran berpotensi memengaruhi distribusi energi internasional.
Sebelum konflik memanas, volume minyak dan bahan bakar yang melewati Selat Hormuz disebut setara dengan sekitar 20 persen pasokan global. Karena itu, meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut dapat mendorong perubahan ekspektasi pasar terhadap harga minyak.
Ibrahim menyebut aktivitas serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz mengalami peningkatan.
“Serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz mencapai tingkat tertinggi pada pekan lalu, tertinggi sejak dimulainya perang Iran,” kata Ibrahim dalam risetnya.
Ketidakpastian pasokan energi dapat memengaruhi pasar keuangan melalui sejumlah jalur, termasuk perubahan harga minyak, ekspektasi inflasi, dan pergeseran minat investor terhadap aset berisiko.
Bagi Indonesia, pergerakan harga energi global menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi biaya impor energi, tekanan inflasi, serta sentimen terhadap mata uang domestik.
Meski demikian, penguatan rupiah pada perdagangan Jumat tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh risiko eksternal telah mereda. Pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi faktor lain, termasuk arus modal, permintaan dolar AS, dan kondisi pasar domestik.
Pasar Menanti Keputusan The Fed
Di luar risiko geopolitik, pelaku pasar turut memperhatikan prospek kebijakan moneter Amerika Serikat. Keputusan The Fed mengenai suku bunga menjadi faktor penting karena dapat memengaruhi daya tarik aset berdenominasi dolar AS dan aliran modal lintas negara.
Ibrahim memperkirakan pelaku pasar cenderung mengantisipasi keputusan suku bunga dalam pertemuan The Fed pada 27–28 Oktober 2026.
“Pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober 2026, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada bulan September,” jelasnya.
Namun, tekanan inflasi yang bertahan tinggi, termasuk akibat kenaikan harga energi, dapat memengaruhi pertimbangan bank sentral AS dalam menentukan kebijakan selanjutnya.
Menurut analisis tersebut, kemungkinan penyesuaian suku bunga pada Desember masih menjadi salah satu risiko yang diperhitungkan pasar. Arah kebijakan itu akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, kondisi perekonomian, serta komunikasi resmi The Fed.
Bagi rupiah, perubahan ekspektasi suku bunga AS dapat memengaruhi perbandingan imbal hasil aset keuangan, permintaan dolar, dan pergerakan modal di pasar negara berkembang.
Dengan demikian, penguatan rupiah ke Rp17.898 per dolar AS pada Jumat berlangsung di tengah kombinasi sentimen yang beragam. Perkembangan konflik Timur Tengah, stabilitas pasokan energi, dan keputusan The Fed menjadi sejumlah faktor yang patut dipantau untuk membaca arah pergerakan mata uang selanjutnya.















Komentar