Sebagai Fasilitator, BPIP Diperlukan Untuk Ruang Dialektika Masyarakat Dalam Upaya Moderasi Beragama

JurnalPatroliNews – Jakarta,- Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sangat diperlukan keberadaannya dalam Upaya pelaksanaan Moderasi Beragama dalam masyarakat, BPIP diharapkan dapat menjadi fasilitator bagi masyarakat untuk berdialog berdialektika tentang nilai nilai Kepancasilaan yang diharapkan dapat  berujung pada terlaksananya moderasi beragama dalam Masyarakat

Hal Ini dinyatakan oleh Mantan Menteri Negara Riset dan Tehnologi Muhammad A.S Hikam dalam acara diskusi bertajuk Moderasi beragama dan tantangan politik identitas di Indonesia Pada Jumat 17 Desember 2021

Bacaan Lainnya

Lebih Lanjut Hikam berharap BPIP tidak mengulang kesalahan di masa lalu yang dilakukan oleh BP7 yaitu tidak bergerak nyata dan hanya terjebak dalam kegiatan yang bersifat Administratif seperti penerbitan sertifikat saja.

Terkait Moderasi Beragama Hikam menyatakan bahwa Negara harus muncul dan hadir supaya perbedaan secara politik khususnya dengan keberadaan politik identitas agar tidak menuju ke arah negatif. Perlu diadakan riset yang fundamental dan mendalam mengenai Politik Identitas ini karena tujuan sesungguhnya dari politik identitas adalah membela  kebutuhan identitas yang termarginalkan bukan untuk memarginalisasi kelompok lainnya.

Dalam Acara yang diselenggarakan oleh Lingkar Studi Politik Indonesia ini, Juga hadir Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo yang menyatakan bahwa, Bangsa Indonesia sudah menyadari marwah keberagaman mereka sadar bahwa Perbedaan merupakan hal yang sudah dihidupi secara nyata oleh bangsa ini, hingga Politik identitas yang senantiasa digulirkan dalam ajang ajang perpolitikan seperti pemilu khususnya dalam media sosial karena merupakan cara yang paling mudah dan murah untuk meraih dukungan tidak akan benar benar bisa mengoyak bangsa ini

Namun perlu disadari bahwa untuk menjaga perdamaian, perlu adanya kecerdasan literasi dalam masyarakat hingga semua anggota masyarakat dapat menjadi individu  pemutus kata, yang aktif mengedukasi diri untuk tidak menyebarkan hoaks dan berita bohong mengenai politik Identitas, Masyarakat harus menyadari bahwa  kita dapat  berbeda dan dapat  baik baik saja, maka perlu adanya perubahan sudut pandang dari konten yang disajikan di media sosial dengan aktif melakukan penyaringan dan menyebarkan konten positif hingga dunia nyata dan media sosial dapat sejalan untuk menuju Indonesia yang lebih baik

Benny menutup paparannya dalam Acara yang dihadiri oleh  pengamat Intelejen Ngasiman Djoyonegoro dan pengurus harian Badan Penanggulangan Ekstrimisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia Muhammad Makmun Rasyid ini dengan menyatakan bahwa dalam kontestasi kontesasi politik, gagasanlah yang harus menjadi topik yang mengemuka bukan  identitas.

Pos terkait