Dari situs PBB ada kabar mengenai pernataan duta besar kita di PBB, “After his confirmation on Thursday, Mr. Suryodipuro said that Indonesia had been a strong supporter of the Council since it began its work 20 years ago, and of the Geneva forum’s predecessor, the Human Rights Commission.” Begini katanya, “Our decision to step forward is rooted in our 1945 constitution and that aligns with the purposes and principles of the UN Charter which mandates Indonesia to contribute to world peace based on independence, peace and social justice.”
Situasi di Venezuela memang serba salah, hak asasi (human rights) rakyat Venezuela yang ditindas oleh rezim Maduro atau kedaulatan negara Venezuela?
Tapi apakah Venezuela “cuma” soal Narkoba? Karena faktanya Nicolas Maduro memang sudah direncanakan untuk dikudeta secara halus, kalau di Indonesia jaman Gus Dur namanya “kudeta merambat”. Buku “Menjerat Gus Dur” oleh Virdika Rizky Utama mengulas soal ini dari dokumen-dokumen yang tadinya mau dibuang dari markas Golkar di Slipi.
Direncanakan bersama Wapres Delcy Rodriguez, juga Ketua Parlemen Venezuela Jorge Rodriguez (kakak-beradik) dan pihak Amerika Serikat. Adalah fakta menarik bahwa Venezuela mengandung cadangan minyak terbesar di dunia (303 miliar barel), lebih besar dibanding Arab Saudi (267 miliar barel).
Lalu Tanah Hijau (Greenland), apa urusannya Greenland dengan Kokain? Oh bukan soal Kokain tapi soal Geostrategis militer Amerika Serikat, begitu katanya. Tanah berlapis es yang luas (2,1 juta km persegi, bandingkan dengan luas daratan Indonesia yang 1,9 juta km persegi), jumlah penduduknya sekitar 56 ribu orang saja.
Greenland saat ini berada dalam otoritas Kerajaan Denmark, sesama anggota NATO, lalu bagaimana sikap Denmark? Jelas menolak. Kabarnya Greenland juga menyimpan cadangan mineral “rare-earth” yang banyak, dan AS ngiler soal ini.
Sebelum statement pihak Denmark, kita simak perkataan Donald Trump, “We need Greenland from the standpoint of national security, and Denmark is not going to be able to do it.” Amerika butuh Greenland dari kacamata keamanan nasional dan Denmark nggak punya kemampuan untuk melakukan itu. Straight to the point tanpa tedeng aling-aling. Pernyataan koboi ala Trump.
AS menggelandang mantan Presiden Maduro di momentum yang “menguntungkan” Donald Trump, yaitu saat rakyat Venezuela sendiri benci dengan Maduro yang sewenang-wenang, narko-politik, korup dan dicaci dunia interntasional lantaran banyak melanggar hak asasi manusia.
Sementara Indonesia yang saat ini menduduki kursi kepresidenan UN Human Rights Council di Jenewa mesti pandai-pandai medayung di antara dua karang (ingat pesan Bung Hatta), konsisten menerapkan politik bebas-aktif dan membela perdamaian dunia sambil tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara.
Dan jangan lupa, sambil terus menjaga kedaulatannya sendiri, lewat diplomasi, kerjasama internasional di bidang ekonomi, dan terus membangun kekuatan pertahanannya sendiri.
“Si vis pacem, para bellum” yang artinya, jika kamu menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk berperang.














