JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda mereda setelah Iran dan Israel memutuskan untuk menghentikan aksi saling serang.
Keputusan penghentian konfrontasi senjata tersebut diambil pada Senin (8/6) menyusul adanya permintaan langsung dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Kendati demikian, pihak Iran melayangkan ancaman keras akan kembali meluncurkan gempuran jika Israel nekat melanjutkan agresi terhadap sekutu mereka, milisi Hizbullah di Lebanon.
Bentrokan sengit yang terjadi pada akhir pekan lalu tersebut menjadi konfrontasi langsung pertama bagi kedua negara pasca-peristiwa serupa pada April lalu.
Meletusnya kembali pertempuran tersebut sempat memberikan guncangan ekonomi dengan melonjaknya harga minyak dunia sebesar 5 persen.
Pada saat yang bersamaan, nilai tukar mata uang dolar AS langsung merosot turun setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam kurun waktu hampir dua bulan.
Melalui keterangan resminya, pihak Iran menyatakan bahwa gempuran ke wilayah Israel merupakan aksi balas dendam atas serangan yang menargetkan markas Hizbullah di Lebanon.
Israel kemudian membalas tindakan tersebut dengan menyasar sistem pertahanan udara serta kompleks pembangkit listrik di Iran yang dituduh sebagai fasilitas produksi rudal.
Secara terpisah, Garda Revolusi Iran mengonfirmasi bahwa kesatuan mereka juga berhasil menghantam sejumlah fasilitas energi strategis di Haifa, Israel.
Meskipun kedua belah pihak terlibat aksi saling serang yang cukup masif, baik Israel maupun Iran melaporkan tidak ada korban jiwa ataupun korban luka.
Peringatan Keras Trump dan Progres Negosiasi Damai
Pertempuran terbaru di akhir pekan ini diakui berdampak langsung pada diplomasi Presiden AS Donald Trump dalam mengakhiri konflik secara permanen.
Trump mengemukakan bahwa eskalasi bersenjata pada akhir pekan kemarin membuat jalannya negosiasi perdamaian menjadi jauh lebih rumit.
Namun, Trump meyakini bahwa pihak Israel maupun Iran pada dasarnya sama-sama menginginkan agar kesepakatan gencatan senjata segera tercapai.
Melalui media sosialnya sebagaimana dikutip dari Reuters, Trump menyatakan bahwa negosiasi akhir perdamaian tengah berjalan meski ada potensi kebodohan yang menghalangi.
Sementara itu, dalam wawancara yang dikutip Axios, Trump juga memberikan peringatan yang sangat keras kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Trump menegaskan kepada pria yang akrab disapa Bibi tersebut bahwa Israel harus berhati-hati atau mereka akan berjuang sendirian tanpa adanya dukungan dari AS.














Komentar