JurnalPatroliNews –Pasuruan- Balai Besar TNBTS (TNBTS) memberikan klarifikasi resmi terkait insiden kericuhan yang melibatkan petugas tiket dengan sejumlah pemandu wisata di pintu masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Sabtu (27/6/2026) dini hari.
Pihak pengelola menegaskan bahwa peristiwa tersebut dipicu oleh ketidaksesuaian data tiket dengan jumlah wisatawan yang akan memasuki kawasan konservasi.
Kepala BB-TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menjelaskan bahwa insiden bermula saat petugas melakukan pemeriksaan dan verifikasi terhadap data pengunjung sebagai bagian dari prosedur pelayanan untuk memastikan jumlah wisatawan sesuai dengan data pemesanan tiket yang tercatat dalam sistem.
Dalam proses tersebut, petugas menemukan sejumlah tiket yang dibawa pelaku jasa wisata tidak sesuai dengan jumlah pengunjung yang hendak memasuki kawasan TNBTS. Perbedaan data tersebut memicu perdebatan antara petugas dan pemandu wisata.
Menurut Rudijanta, situasi semakin memanas ketika beberapa pemandu wisata diduga mengajak pengemudi kendaraan wisata lainnya agar tidak mengikuti prosedur pemeriksaan, termasuk tidak melakukan pemindaian QR Code sebagaimana aturan yang telah ditetapkan oleh pengelola kawasan.
Perbedaan pendapat yang semula hanya berupa adu argumen kemudian berkembang menjadi kericuhan yang disertai aksi saling dorong hingga dugaan kekerasan fisik.
BB-TNBTS menyebut petugas yang berjaga bersama personel Marinir TNI Angkatan Laut mendapat tekanan dari ratusan pemandu wisata serta sejumlah wisatawan. Dalam situasi tersebut, salah seorang petugas diduga melakukan pemukulan terhadap seorang pemandu wisata setelah mengaku menerima provokasi dan serangan.
Menurut pihak BB-TNBTS, tindakan tersebut merupakan reaksi spontan sebagai bentuk pembelaan diri dan upaya melindungi petugas lain yang berada di lokasi.
“Kami menilai informasi yang beredar seolah-olah petugas melakukan pemukulan secara sepihak tidak menggambarkan keseluruhan rangkaian peristiwa yang terjadi di lapangan,” jelas Rudijanta.
Setelah situasi berhasil dikendalikan, pelayanan di pintu masuk kembali berjalan normal. Namun, pada pagi harinya terjadi kericuhan susulan ketika sejumlah pelaku jasa wisata kembali mendatangi area pintu masuk dan diduga melakukan tindakan yang mengarah pada penyerangan terhadap petugas maupun personel pengamanan.
Petugas bersama unsur pengamanan segera melakukan langkah pengendalian situasi guna mencegah eskalasi konflik sekaligus memastikan aktivitas pelayanan kepada wisatawan tetap berlangsung.
Untuk meredakan ketegangan, pada pukul 06.21 WIB dilakukan mediasi di Kantor Resort PTN Gunung Penanjakan yang difasilitasi Polsek Tosari, Kabupaten Pasuruan. Seluruh pihak yang terlibat diberikan kesempatan menyampaikan penjelasan masing-masing hingga akhirnya sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
Rudijanta menyampaikan bahwa seluruh pihak yang terlibat telah saling memahami dan saling memaafkan. Ia juga mengapresiasi dukungan Polsek Tosari, unsur pengamanan, koordinator pelaku jasa wisata, serta seluruh pihak yang turut menjaga situasi tetap kondusif.
Terkait keberadaan personel Marinir TNI AL di kawasan wisata Bromo, BB-TNBTS menjelaskan bahwa kehadiran mereka merupakan bagian dari dukungan pengamanan mengingat tingginya jumlah kunjungan wisatawan pada akhir pekan dan musim libur sekolah.
Personel Marinir ditempatkan di beberapa pintu masuk kawasan TNBTS, di antaranya Wonokitri (Pasuruan), Cemorolawang (Probolinggo), dan Jemplang (Malang), untuk membantu menjaga keamanan, ketertiban, serta kelancaran pelayanan kepada pengunjung.
Menutup keterangannya, BB-TNBTS mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh potongan video atau informasi yang beredar tanpa konteks utuh karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Pihak pengelola menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan prosedur pemeriksaan sesuai ketentuan yang berlaku demi menjamin keselamatan pengunjung, ketertiban administrasi, dan pengelolaan kawasan konservasi yang profesional serta berkelanjutan.















Komentar