Fokus Pada Tujuan: Udayah Navasaktih, Kebangkitan PSI, Kekuatan Baru, Indonesia Maju

Isu seperti ijazah palsu, makam palsu, Jokowi palsu yang semuanya tidak masuk akal sehat bakal terus dikumandangkan. Dasar teori agitasinya sederhana, kebohongan yang diulang-ulang pada akhirnya akan diterima sebagai kebenaran (firehose of falsehood). Teori yang dipraktekkan secara gemilang oleh Joseph Goebbels (menteri propaganda Hitler) telah terbukti berhasil menyihir bangsa Jerman untuk terjerumus kedalam kubangan politik rasis.

Walau pada akhirnya bangsa Jerman harus menanggung malu pada generasi pasca Perang Dunia 2 dan masih harus menata psikologis bangsanya untuk bisa berkoeksistensi damai dengan bangsa-bangsa lain (utamanya bangsa Yahudi) yang dulu hendak mereka eksterminasi. Sebuah pelajaran pahit dalam sejarah umat manusia.

Politik kebencian dan kebohongan yang tanpa rasa malu dulu dipropagandakan rezim Hitler ini rupanya telah diadopsi oleh sementara kalangan di Indonesia. Dengan memanfaatnya pion-pion macam Roy Suryo, Tifa, Rismon dan lain-lainnya itu mereka ingin mengulang “kisah sukses” Joseph Goebbels. Tapi kita tahu bahwa ujung dari politik ini adalah “rasa malu bangsa”.

Maka “Udayah Navasaktih” sebuah ungkapan dari bahasa Sanskerta yang bermakna bangkitnya kekuatan baru menjadi mantra sakti untuk melawan sihir dari kekuatan jahat propaganda mereka.

Konstelasi perpolitik di Indonesia yang semakin kumuh lantaran ulah para petualang-petualang politik yang libidonya untuk berkuasa sambil terus mengeruk kekayaan negeri ini sudah tak terbendung lagi. Sihir jahat ini harus dilawan dengan “Udayah Navasaktih” bangkitnya kekuatan baru demi Indonesia Maju. Kakuatan yang bisa mendiseminasikan politik baik dan politik kegembiraan.

Selamat ulang tahun ke-11 Partai Solidaritas Indonesia, tetap fokus pada tujuan untuk mengembalikan politik pada posisinya yang mulia, “bonum commune” atau “bonum publicum”, demi kemaslahatan rakyat banyak.