Gerakan Moral dan Gerakan Sosial Akselerasi Transformasi

Penanaman nilai nilai Tri Brata dan Catur Prasetya menunjukan bahwa polisindi dalam pemolisiannya: Peka Peduli hingga Bela Rasa bagi: Kemanusiaan terutama kaum menderita lemah papa yang termarjinal sekalipun dari.

Keteraturan sosial dalam masyarakat yang homy atau yang nyaman asri aman dan ngangeni standarnya bukan pada kemewahan melainkan pada suatu rasa kemanusiaan ada aura pencerahan yang dapat dirasakan adanya keamanan dengan rasa aman. Aura ini adalah sesuatu yang tak benda atau untangible. Sentuhan rasa pada yan tangible akan mampu membangun rasa yang untangible.

Untuk menggerakan akselerasi tranformasi Polri selain moral juga memerlukan literasi. Literasi tidak hanya sebatas baca tulis namun diimplementasikan melalui berbagai kegitan merubah mind set yang cerdas dengan rohnya pada keutamaan yang dijabarkan dari Tri Brata dan Catur Prasetya.

Tatkala kembali pada keutamaannya maka polisi yang merupakan polisi rakyat akan kuat dalam gempuran politik sekalipun. Karena senjata polisi itu simpati masyatakat sehingga keberadaannya diterima, didukung dan dianggap sebagai bagian dari masyarakat yang dilayaninya. dominan maka Roh jiwa taksu chi maupun passion muncul sebagai penjaga kehidupan, pembangun peradaban dan pejuang kemanusiaan. Komitmen dan konsistensi sebagai polisi yang berkeutamaan tidak lagi naif atau tergantung atas perintah atau pamrih melainkan berani nggetih berkorban sebagai kehormatannya seperti apa yang tertera dalam Tri Brata dan Catur Prasetya.

Tatkala gerakkan moral dan gerakan sosial dalam mentransformasi yang dimulai dari para pemimpinnya dan didukung dari bottom up ini akan menjadi fondasi bagi hidup tumbuh dan berkembangnya kesadaran tanggung jawab dan disiplin.

Gerakam moral dan gerakan sosial Akselerasi Transformasi Polri Prinsipnya sama dan implementasinya tidak harus sama disesuaikan dengan corak masyarakat dan kebudayaannya, sesuai konteksnya dalam menanamkan, mengimplementasikan serta mempertanggungjawabkannilai nilai Tribrata dan Catur Prasetya.

Dalam masyarakat yang demokratis Akselerasi Transformasi Polri dibangung dari suatu dialog peradaban yang melibatkan semua stake holder yang dapat saling mengkritisi, menginspirasi dan saling menguatkan dalam menjaga keteraturan sosial wujud peradaban dari berbagi sisi atau berbagai model maupun pendekatan

Akselerasi Transformasi Polri yang merupakan gerakan moral dan gerakan sosial dapat ditumbuh kembangkan dengan cara apa saja, kapan saja, dimana saja, dengan cara apa saja dan siapa saja bisa:

  1. Apa saja:
    Memulai apa saja dari rumah bisa,
  2. Kapan saja
    Kapan saja waktunya bisa kita lakukan,
  3. Dimana saja
    Rumah kita di mana saja bisa memancarkan aura dan nilai nilai budi luhur untuk peka peduli dan bela rasa kepada manusia maupun lingkungannya,
  4. Dengan cara apa saja
    Dari cara manual hingga virtual bisa dilakukan,
  5. Siapa saja bisa.

Akselerasi Transfsormasi Polri sebagai gerakkan moral dan gerakan sosial tentu saja secara konseptual dan kontekstual dapat dikaitkan dengan norma maupun berbagai hal yang berkaitan dengan:

  1. Peraturan dan Perundang undangan atau Regulasi yang berkaitan hingga SOP nya,
  2. Pemimpin dan Kepemimpinannya yang Transformatif,
  3. Adanya Tim Transformasi yang merupakan representasi dari para pemangku kepentingan,
  4. Media yang merupakan ruang dialog,
  5. Sistem Administrasi dalam Birokrasi yang mencakup:
    a. Perencanaan Pengorganisasian dan pelaksanaan serta pengawasan dan Pengendaliannya,
    b. Pembinaan Sumber Daya Manusia,
    c. Sumberdaya Logistik,
    d. Sumberdaya Anggaran,
  6. Operasionalnya yang bersifat:
    a. Rutin,
    b. Khusus,
    c. Emerjensi dan Kontijensi.
  7. Pelayanan Publik yang mencakup pelayanan Keamanan, Keselamatan, Hukum, Administrasi, Informasi maupun Kemanusiaan,
  8. Lembaga Pendidikan yang merupakan Litle Polri yang berbasis Moral dan Literasi untuk mentransformasi, mengkaji dan mengembangkan Ilmu Kepolisian agar para peserta didiknya Mahir Terpuji Patuh Hukum dan Unggul,
  9. Pemolisian di Era digital maupun era kenormalan baru dalam model Smart Policing yaitu harmoninya antara Conventional Policing, Electronic Policing dan Forensic Policing,
  10. Sistem Pengawasan maupun Akuntabilitas secara manual maupun online yang berbasis elektronik yang pertanggung jawabannya dapat dilihat secara: Moral, Hukum, Administrasi, Fungsional maupun Sosial

“Religi Seni Tradisi yg benda maupun tak benda dalam akselersi transformasi Polri”.