JurnalPatroliNews – Jakarta – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa Demul, menuai sindiran setelah terlibat perdebatan dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait dana daerah yang disebut mengendap di perbankan.
Sindiran itu datang dari Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi, yang menilai langkah Dedi berpolemik dengan Menkeu tidak memberikan manfaat nyata bagi pembangunan daerah.
“Persoalan dana mengendap itu substansial karena berkaitan langsung dengan pembangunan. Jadi, buat apa Dedi Mulyadi harus ribut-ribut soal itu dengan Purbaya?” ujar Muslim, Minggu (26/10/2025).
Muslim bahkan menuding perdebatan tersebut hanya menjadi ajang mencari sorotan publik.
“Jangan-jangan KDM cuma ingin ikut beken seperti Purbaya yang lagi ramai dibicarakan belakangan ini,” tambahnya dengan nada satir.
Sebelumnya, polemik bermula ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap adanya dana pemerintah daerah Jawa Barat sebesar Rp4,1 triliun yang masih mengendap di bank. Pernyataan itu dibantah oleh Dedi Mulyadi, yang mengklaim data tersebut tidak akurat.
Menanggapi bantahan itu, Purbaya menegaskan bahwa informasi yang ia sampaikan bersumber dari sistem monitoring Bank Indonesia (BI). Ia bahkan menyarankan agar Dedi memverifikasi langsung ke bank sentral.
“Silakan tanya ke BI. Data itu dari mereka, bukan karangan saya. Mungkin saja anak buahnya KDM yang kasih laporan salah. Itu kan dari sistem perbankan, laporan resmi pemerintah daerah,” jelas Purbaya kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Selasa (21/10/2025).
Polemik ini pun menjadi sorotan publik, mengingat dana mengendap di perbankan dianggap sebagai salah satu indikator lemahnya realisasi anggaran daerah. Sementara, perdebatan antara dua pejabat publik ini justru dinilai sebagian pihak hanya memperkeruh suasana tanpa solusi konkret bagi masyarakat Jawa Barat.














